Rabu, 28 Mei 2008

Belajar dari Rosihan Anwar


Catatanku:

Kadang yang muda lebih cepat terlupa
Kadang yang belia lebih cepat lena
Sungguh bijak belajar dari yang sudah
Sungguh santun memahami dari yang tua
Pelajaran tentang Rosihan Anwar sungguh bermakna
Patut direnungkan bersama
Terutama bagi diriku….

*******

Belajar dari Rosihan Anwar

Di Sini Sekarang, Esok Hilang

Rosihan Anwar (GATRA/Wisnu Prabowo)Tak sulit mencari rumahnya.
Mungkin, Rosihan Anwar adalah satu-satunya wartawan Indonesia yang
masih tinggal di kawasan Menteng, Jakarta. Di rumahnya yang masih
dalam bentuk asli, karangan bunga tampak meluber, Sabtu pagi 13 Mei
lalu, ketika Rosihan Anwar merayakan hari ulang tahunnya yang ke-86.

Bang Tjian, begitu Rosihan sering disapa, masih terus menulis.
Tubuhnya yang tinggi semampai itu tak pernah menjadi gemuk dan tambun.
Tetap langsing dan daya ingatnya masih tajam, termasuk mengingat nama
rekan-rekannya. Dalam hal makan, Rosihan tak punya pantangan. Ia juga
tak mengidap penyakit. Apa rahasianya? "Ah, setiap hari saya cuma
melakukan tiga-O," ujarnya, "yaitu olahraga, olah-pikir, dan olah-iman."

Hadir di hari ulang tahunnya para tokoh media, antara lain Jakob
Oetama, Sumadi, Tribuana Said, Ishadi S.K., Djafar Assegaff, dan Parni
Hadi. Apa yang dilakukan Bang Tjian setelah tak memimpin dan memiliki
koran lagi? Setiap pagi setelah salat subuh, dia mulai mengetik. Tidak
lama, karena pukul 06.00 ia jalan kaki mengelilingi kawasan tempat
tinggalnya. Pulang minum kopi. Setelah itu, Bang Tjian tidur lagi
barang setengah jam. Terus mandi dan makan pagi. Kalau tak ada
undangan, ia melanjutkan menulisnya. "Saya menulis dengan mesin tik
tua. Suara tik-tik-tik itu mendatangkan inspirasi untuk menulis."

Pernah dicobanya dengan komputer, ternyata dianggap banyak aturan.
"Bikin pusing. Aku ini gaptek, gagap teknologi," katanya. Satu-satunya
alat modern yang dipakainya adalah mesin faksimili. Dalam perjalanan,
yang kadang masih dia lakukan, jangan harap Bang Tjian menjinjing
laptop. Ia masih sanggup mengirim naskah tulisan tangan. Tulisannya
pun masih jelas dengan huruf-huruf yang mudah dibaca.

Pada jam-jam senggangnya, ia suka mengikuti berita melalui televisi.
Mulai stasiun TVRI, CNN, BBC, hingga Al-Jazeera dijelajahinya. Dia
juga masih doyan membaca. Sesekali Bang Tjian pergi ke perpustakaan
Erasmus Huis, di samping Kedutaan Besar Belanda di Kuningan, Jakarta
Selatan.

Rosihan Anwar adalah putra keempat Asisten Demang Anwar gelar
Maharadja Soetan, yang lahir di sebuah desa bernama Kubang Nan Dua,
yang terletak antara Alahan Panjang dan Sawah Lunto, Sumatera Barat.
Setamat HIS, dia masuk MULO (Middelbare Uitgebreid Lager Oderwijs)
--setingkat SMP. Dari MULO Belantung ini ternyata muncul pemuda-pemuda
yang aktif dalam pergerakan melawan penjajahan Belanda, seperti Bung
Hatta, Asaat, Bahder Djohan, dan Usmar Ismail.

Semasa di MULO itu, dia menjadi kutu buku karangan Karl May, Courths
Mahler, Charles Dickens, dan Victor Hugo. Ia juga tergolong "hantu
film" karena dengan segala akalnya setiap kali ia bisa menyelinap
nonton film. Majalah-majalah seperti Photoplay, Picture Goer, dan
Picture Post selalu diincarnya. Sesekali ia membaca koran Sumatra
Bode, mengikuti berita selintas tentang pemberontakan di kapal Zeven
Provincien, atau kisah Hatta dan Sjahrir dibuang ke Boven Digul pada
pertengahan 1930-an. "Sebagai anak bestuursambtenaar, saya tak dilatih
mengikuti pergerakan nasional," tulis Bang Tjian dalam otobiografinya.

Ketika duduk di kelas III MULO, ayahnya yang Demang Kerinci ingin agar
salah seorang anaknya jadi AIB (ambtenaar inlands bestuur). Keinginan
ayahnya itu ditolaknya, dan berlayarlah ia ke Jawa, masuk AMS A di
Yogyakarta. Cita-citanya menjadi philologist, ahli bahasa-bahasa.

Di saat dia bersekolah di Yogya itulah, Jepang datang menyerbu.
Kehidupannya yang nyaman pun berubah. Ia harus mencari nafkah. Suatu
kali, Dokter Abu Hanifah menawarinya lowongan kerja untuk tenaga muda
yang pandai berbahasa Melayu. April 1943, dia menjadi pembantu pribadi
Yoshio Nakatani, lalu pindah bekerja di koran Asia Raya. Tiga bulan
kemudian, Rosihan magang menjadi wartawan.

Dunia jurnalistik lalu menjadi pilihan hidupnya. Januari 1947, bersama
Soedjatmoko, ia mencetak tabloid 12 halaman bernama Siasat di Jakarta.
Modalnya beberapa rim kertas, stok untuk empat edisi untuk tiras 3.000
eksemplar. Untung saja, Kementerian Penerangan RI, yang ketika itu
berkantor di Jalan Cilacap 4, Jakarta, memberi uang 3.000 ORI.
Wartawannya lima orang, dibantu empat pegawai tata usaha. Dalam waktu
tiga bulan, tirasnya naik menjadi 12.000 eksemplar.

Harian Pedoman terbit beberapa bulan kemudian. Mr. Sumanang menjadi
pemimpin redaksinya. Atas bujukan Mr. Sumanang, R.H.O. Djunaedi,
pemilik percetakan di Senen Raya 107, bersedia membantu penerbitan
koran "kiblik" --sebutan untuk media yang pro-Republik Indonesia--
itu. Tiras 3.000 setiap pagi terserap oleh para agen. Sambutan yang
umumnya dari "kaum kiblik" sangat antusias.

Suatu kali, Rosihan bertugas ke Yogya. Di Bandara Meguwo, ia bertemu
Sri Sultan Hamengku Buwono IX, yang bertanya apakah ia ingin bertemu
Jenderal Soedirman. "Saya ingin sekali," katanya. Esoknya, sebuah jip
menjemputnya. Ia cepat naik. Di dalam mobil itu ternyata ada Letkol
Soeharto (kemudian menjadi Presiden RI) dan juru foto Iphhos, Frans
Sumarno Mendur.

Jip meluncur ke luar kota. Di suatu tempat, jip berhenti. Perjalanan
berlanjut dengan sepeda pancal, lalu jalan kaki. Barulah ia bertemu
dengan Panglima Soedirman, yang menerimanya dengan kemeja dan ikat
kepala serba hitam.

Pedoman, dengan misinya sebagai koran "kiblik", meski terbit di
Jakarta yang sudah jatuh dalam kekuasaan, terus saja menulis bahwa
Republik Indonesia tidak mudah dikalahkan dan memberitakan perlawanan
TNI. Akhirnya, Jawatan Penerangan Belanda tidak senang. Pada 31
Januari 1949, Pedoman dibredel.

Baru setelah perundingan Konferensi Meja Bundar (KMB), Pedoman boleh
terbit kembali. Tapi koran ini kesulitan keuangan. Djunaedi kapok
mencetaknya lagi. Rosihan puyeng. Suatu hari, begitulah ditulis dalam
otobiografinya, ia mengeluhkan situasi itu kepada Lim Tik Ie,
tetangganya di Pegangsaan Barat. Tiba-tiba Lim, yang di kemudian hari
berganti nama menjadi Budiman, membuka tasnya. Dia serahkan 20.000
rupiah uang NICA sambil berkata boleh dibayar angsur kapan saja. "Saya
kaget ketiban rezeki tiba-tiba. Budiman kemudian tinggal di Jerman
Barat dan meninggal di sana," tulis Rosihan.

Redaksi Pedoman di tahun-tahun awal dipimpin oleh Sanyoto, dibantu
Gadis Rasyid, Mahidin, Wiryawan, dan Sudjati S.A. Pedoman melaju dan
pindah ke Percetakan Moolenaar di Jalan Pintu Air Nomor 23. Mutunya
membaik dan tirasnya menembus 5.000 eksemplar.

Pedoman ikut menyongsong masa demokrasi liberal (1950-1957), bersama
beberapa koran berpengaruh lainnya, seperti Indonesia Raya dan Abadi.
Ia menyaksikan ketika itu parlemen terpecah belah. Dari fraksi
Masyumi, misalnya, ada "sayap Natsir" dan "sayap Sukiman". Di PNI ada
sayap "Sidik Djojosukarto" dan "sayap Wilopo". Kabinet jatuh-bangun.
Dalam kurun Desember 1919-Maret 1957, muncul tujuh kabinet.

Bung Karno mengambil alih kendali dengan mencanangkan "demokrasi
terpimpin". Pedoman lantas ditutup pemerintah setelah "berdinas" 13
tahun. Toh, Rosihan tetap menulis dengan nama samaran "Haji Waang".
Pedoman boleh terbit lagi pada 1968. Tapi, 14 Januari 1974, koran ini
diberangus oleh Presiden Soeharto. Ketika itu, tiras Pedoman sudah
mencapai 60.000. Pukulan ketiga ini membuatnya kehilangan gairah
menerbitkan media pers kembali.

Bang Tjian menjadi Haji Waang kembali untuk menjadi penulis kolom.
Sebagian media tak mau menerima naskahnya karena "takut atau enggan"
pada penguasa. Dalam otobiografinya, Bang Tjian menulis bahwa wartawan
itu tugasnya sebagai komunikator profesional. Dikutipnya pendapat
Lucien W. Pye tentang "orang-orang yang mengerti politik tetapi tidak
termasuk politik". Dan Pedoman adalah satu titik yang menjadi "korban
politik".

Suatu kali, pada 1976, di depan kongres IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa
Indonesia) di Medan, dengan tandas dikatakannya bahwa "pers bebas dan
bertanggung jawab itu tidak ada. Menurut dia, pers yang menganut asas
semacam itu tak bisa survive. Pers harus tegas membela umum. Namun,
agar tak rancu, fakta dan opini harus dipisah. PWI mengangkatnya
sebagai Ketua Pembina Pusat pada 1970-1973, dan ia menjadi Direktur
Program Karya Latihan Wartawan 1978. Ratusan wartawan telah dibinanya.

Kini opa gaek dengan enam cucu dan seorang cicit ini menjadi
broodschrijver, yaitu menulis demi sepotong roti. Tuhan telah
menganugerahinya rezeki tidak berlimpah, tapi cukup. Kekayaan yang
dimilikinya kini dan tak ternilai harganya adalah kesehatannya. Daya
ingat yang masih tajam dan tulisannya yang asyik dibaca.

Beberapa perguruan tinggi, dalam dan luar negeri, sempat
menganugerahinya gelar doktor dan profesor honoris causa. The Malay
Mail edisi 4 Januari lalu pun menyanjungnya sebagai "the oldest active
Malay journalist". Wartawan yang seperti Rosihan yang bisa
menjembatani persahabatan antarnegara. Ia sempat menulis
otobiografinya, berjudul Menulis dalam Air. "Wartawan itu ibarat
menulis dalam air. Di sini sekarang, esok hilang," ujar Rosihan.

Toeti Kakiailatu
Wartawan senior
[Media, Gatra Nomor 28 Beredar Kamis, 22 Mei 2008]

Wassalam, Best regard, Rio Erismen (Kairo)

1 komentar:

AKMALANNAS, ALMERBAWI mengatakan...

Mantap kali blognya Rin. tampilannya bagus, isinya juga bagus. Memang tulisan yang muncul dari emosi, lebih berkarakter. Aku mau masukkan foto di tiap tulisan aja gak pandai. heeee. tlg ajar dong..

Design by Amanda @ Blogger Buster