Senin, 23 Juni 2008

Wartawan Lokal, Profesionalisme Pers Versus Tuntutan

Kalau ditanya kepada wartawan yang ada saat ini kenapa memilih pekerjaan sebagai wartawan maka jawabannya pasti berbeda, ada yang menjawab karena panggilan hati, karena mempunyai bakat menulis dan ada juga yang nekat untuk menjawab jujur: Karena memang membutuhkan pekerjaan.

Ya tentu sah sah saja, karena wartawan juga merupakan suatu profesi yang tidak jauh berbeda dengan pekerjaan yang lain, suatu profesi yang bisa dijalani siapa saja asalkan mempunyai dan memenuhi criteria tertentu. Salah satunya bisa menulis berita dengan memenuhi syarat 5 W + 1 H, mempunyai keberanian untuk menembus narasumber, rasa ingin tahu yang sangat besar, Insting adanya sesuatu dibalik peristiwa, Kejelian melihat hal yang tidak dilihat orang lain, menguasai medan dan sebagainya. Namun benarkah semua itu cukup? Ternyata Tidak!
Kenapa saya katakan tidak cukup, karena sebagai suatu profesi tentunya Wartawan juga harus mampu bersikap professional, bukankah standart keberhasilan suatu profesi adalah keprofesionalisan seseorang dalam menjalankan profesinya.

Lalu Bagaimanakah wartawan yang professional? apalagi ditengah tuntutan kehidupan yang semakin berat, karena walaupun berbungkuskan baju idealisme dan penyampai kebenaran kondisi masyarakat Wartawan tetap saja manusia yang mempunyai kebutuhan hidup sama seperti manusia yang bekerja dengan profesi yang lain.

Seorang wartawan ada kalanya seorang suami yang harus membiayai anak dan istrinya, ada kalanya seorang wartawan seorang Kakak yang mempunyai adik yang membutuhkan biaya kuliah dan biaya yang lain dan wartawan adalah seorang anak yang mempunyai orang tua yang membutuhkan santunan biaya dari anak anaknya. Lalu bagaimanakah seorang wartawan bisa menyikapinya? apalagi oleh seorang wartawan daerah (local) yang hanya berkibar dalam cakupan batas terirorial propinsi atau sebuah kabupaten kecil, seperti kabupaten Kampar misalnya?

Untuk bisa menjawab ini, ada baiknya kita tinjau beberapa point penting yang sangat erat kaitannya dengan dunia para kuli ini, yaitu Kemerdekaan pers, profesionalisme Pers dan Pers local yang dilematik
Kemerdekaan pers adalah sesuatu yang selalu diagung agungkan bahkan menjadi mazhab bagi seluruh insane pers menjalankan tugasnya. Kebebasan pers adalah kemerdekaan berpendapat, berekspresi yang dilindungi oleh Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Dalam mewujudkan kemerdekaan pers itu, wartawan harus menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.

Kemerdekaan atau Kebebasan Pers di Indonesia yang ada saat ini ini bermula dari lahirnya Undang-Undang RI No.40 tahun 1999 tetntang Pers. sehingga sebuah media tidak akan mudah untuk dibrendel atau dicabut izinnya. Keberadaan suatu media termasuk wartawannya lebih banyak ditentukan oleh mekanisme dan penerimaan pasar. Kondisi ini membawa pers dalam gulatan bisnis dan industri media massa, yang tentu saja tidak akan jauh berbeda dengan bisnis bisnis disektor lainya.

Hanya saja untuk bisa menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, maka wartawan di Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. Atas dasar itu, maka diminta malah diharuskan wartawan untuk menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik. Bukan hanya itu dalam menjalankan tugasnya dan mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan maka wartawan diminta menjalankan profesinya dengan profesionalisme yang tinggi.

Profesionalisme pers muncul disaat masyarakat menanggapi kebebasan pers yang ada dengan kecaman-kecaman dan hujatan. Pers sering dituduh tidak lagi mengindahkan kode etik, mengabaikan etika dasar jurnalistik yang menyiratkan keberimbangan (cover both sides), keakuratan, dan keadilan (fairness). Pers dianggap cenderung mengembangkan sajian informasi konflik, kekerasan, dan pornografi. Lihat saja kasus Front Pembela Islam (FPI) dengan Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang menimbulkan aksi pemukulan kelompok AKBB di Monas Jakarta dan akhirnya berujung kepada penangkapan pimpinan dan anggota FPI.

Pada kasus ini, banyak pihak yang menuduh pers berat sebelah dan tidak menjalankan prinsip keberimbangan di media massa, sehingga satu sisi kebijakan dan sikap FPI dianggap sebagai sesuatu yang salah dan harus dihukum tanpa memberikan FPI peluang untuk menjelaskan kenapa mereka mengambil jalan tersebut. Namun terlepas dari pro dan kontra akan kasus ini, tuntutan untuk menjalankan profesionalisme pers semakin tinggi.

Bukan hanya itu, saat ini pers dituntut profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat. Wartawan bukan lagi sosok yang kebal dari segala tuntutan hukum. karena walaupun UU sudah membuka kran kebebasan bagi pers namun kemerdekaan dan kebebasan itu dimaknai bahwa wartawan tidak dapat berbuat sewenang-wenang atau kebablasan, melainkan bebas dalam arti dijamin dalam mencari, memperoleh, dan menyampaikan gagasan dan informasi untuk memenuhi hak tahu masyarakat.

Apalagi UU pers juga sudah mengatur dalam beberapa pasal tentang tindakan pidana yang akan ditimpakan kepada wartawan kalau melakukan suatu kesalahan. Misalnya saja
Bila ada karya atau tulisan wartawan yang mengandung pencemaran nama baik, yakni melanggar asas praduga tak bersalah karena beritanya dinilai telah memvonis seseorang sebagai koruptor, maling, atau bandar judi, misalnya, dapat diproses di pengadilan perdata dengan pidana denda paling banyak Rp 500 juta (Pasal 18 Ayat (2)).Dan masih banyak pasal pasal lain yang mengatur gerak wartawan sehingga menjadi wartawan akhirnya menjadi suatu profesi yang mempunyai protap sendiri.

Lalu bagaimana wartawan local menyikapi hal ini? bicara lebih kecil untuk batasan wartawan Riau atau wartawan Kampar menyikapi hal ini?
Dikembangkannya wacana otonomi daerah membuat perusahaan media massa membuka ruang di daerah daerah dan sebagaimana konsekwensi bisnis media, dengan adanya perusahaan media didaerah maka melahirkan wartawan local pula. Hanya saja dengan persaingan bisnis media yang sangat ketat maka di daerah juga melahirkan Koran benar benar artinya memang terbit sesuai jadwal, ada juga Koran Tempo: tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak terbit, dan ini berlaku juga untuk wartawannya. Ada wartawan yang benar benar menjalankan tugas kewartawannya dengan baik, ada juga wartawan liar, yang dikenal dengan istilah seperti wartawan bodrex, WTS alias wartawan tanpa suratkabar, dan muntaber (muncul tanpa berita)

Bicara dalam tataran ideal, pers local mempunyai cakupan wilayah yang lebih sempit dengan isu isu yang lebih mengental kedalam satu karakter, yaitu karakter daerah. Untuk itu Pers local harus bisa mengedepankan profesionalitas kerja yang sesuai dengan kebutuhan local. Begitu juga dengan wartawannya harus bisa menyikapi bagaimana isu yang mereka tulis tidak hanya membawa kepentingan jurnalisme saja namun kepentingan dan unsure kedaerahan sehingga bisa memenuhi tuntutan profesionalisme dan tuntutan pasar.

Sisi lain, dengan batasan wilayah ini membuat wartawan daerah terbentur pada dua sisi yang sama sama membahayakan, sisi kebutuhan dan sisi idealisme. Sisi kebutuhan ditimbulkan karena berada dalam wilayah yang lebih sempit membuat wartawan menjadi raja. wilayah yang terbatas membuat seorang narasumber terutama pejabat tidak mempunyai tempat lebih luas untuk sembunyi. Apalagi kalau mereka mempunyai ‘’kartu AS’’ yang membuat daerah menjadi kunkungan penjara bagi isu isu yang bisa menyesakkan nafas.

Disinilah permainan dimenangkan wartawan, karena sempitnya ruang gossip tentu saja membuat mereka bisa menetapkan harga, maka Narasumber bisa menjadi bulan-bulanan bahkan sekaligus menjadi ATM yang menyenangkan. Bukan itu saja, dengan adanya keterikatan yang kuat didaerah maka wartawan tidak jarang menjalankan fungsi dobel sebagai joki untuk mendapatkan sesuatu. Entah itu jabatan atau hanya sekedar proyek belaka. Wartawan yang sekedar gertak juga banyak, toh mereka hanya akan bermain didaerah tanpa harus merasa banyak malu muka.

Ini tentu saja tidak dilakukan semua wartawan karena kita bisa kembali kepada alasan pembenaran yang menyatakan ‘’Ini hanya oknum’’. Namun inilah yang menodai dunia wartawan di daerah atau wartawan local. Bagi mereka yang setiap harinya menjalankan tugas jurnalisnya dengan profesionalisme menjadi tercoreng dengan adanya kondisi ini.
Sisi lain yang membuat wartawan local atau daerah adalah kebutuhan, baik kebutuhan narasumber akan suatu dukungan media dengan kebutuhan hidup wartawan itu sendiri. Apalagi kalau hal ini diembel-embeli dengan ego kedaerahan yang tinggi.

Salah satunya adalah dengan mudahnya idealisme dan kekritisan wartawan local pada kebijakan pemerintah atau kondisi apapun disebabkan rasa kedaerahan. Banyak wartawan local tidak ‘’tega’’ menyuarakan kebenaran karena dibebani rasa melindungi yang sangat tinggi. Bahkan pada kondisi pelaksanaan pilkada tak jarang membuat wartawan daerah larut dalam permainan. Banyak wartawan daerah (local) yang gagal menjaga jarak dengan mereka mereka yang terlibat, bahkan wartawan local larut dalam emosional kedekatan apakah itu persaudaraan, satu kampong dan sebagainya. Membuat jurnalisme profesionalisme tergadai.

Riau saat ini akan menghadapi Pemilihan gubernur, dan akan menghadapi Pemilu 2009, sebagai wartawan daerah saya belum berani memberikan solusi karena saya khawatir saya sendiri tidak dapat menjalankannya. Tapi setidaknya saya hanya ingin memberikan gambaran, apakah kita berada dalam posisi tersebut? atau dimanakah kita akan berdiri? mari sama sama kita renungkan?


Baca juga tulisan ini di: Tabloid Sanggam Kampar

Rabu, 18 Juni 2008

Surat Terbuka untuk Para Wartawan

Adam Maruyama dan Yousef Gamal El Din
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 16 Maret 2007
Dipost dari: http://frirac.multiply.com/journal/item/20 18 Juni 2008

Washington, D.C./Kairo, Mesir : Kami menulis sebagai warga Amerika dan dunia
Arab untuk meminta kepada Anda, para wartawan, agar berusaha lebih keras
untuk memastikan dan mendorong pelaporan berita yang obyektif dan akurat.

Semakin jelas sekarang bahwa laporan-laporan sensasional dari berbagai
saluran media di kedua wilayah kita � Amerika Serikat dan dunia Arab � hanya
memperburuk ketegangan-ketegang an yang ada. Berbagai laporan ini sering
dicirikan oleh kalimat-kalimat yang melodramatis, liputan yang tidak
seimbang, tuduhan yang tidak berdasar, dan komentar-komentar spekulatif.
Sering, media menggunakan gambar kekerasan dan kehancuran yang mencekam
daripada pertumbuhan dan pembaruan untuk menekankan pesan-pesan atau
pandangan-pandangan subyektif tertentu. Dalam surat terbuka untuk seluruh
wartawan di dunia ini, kami akan menggunakan dua konflik terakhir, yaitu
"Perang Melawan Teror" Amerika dan perang di Irak, sebagai contoh.

Dalam liputan media tentang "Perang Global Melawan Teror", media dan pilihan
kalimatnya telah memperlebar jurang yang membelah Barat dan Muslim di
seluruh dunia, mengganggu upaya-upaya penting pembangunan jembatan antara
keduanya. Sebagai contoh, New York Times menggunakan istilah "benturan
peradaban" Samuel Huntington dalam 140 artikel mereka sejak 11 September
2001; sebelumnya, istilah tersebut hanya digunakan dalam 24 artikel.
Walaupun pembahasan teori Huntington harus diakui tidak dapat dihindari
dalam membahas konflik yang sedang terjadi, namun jadi sangat sulit
dimaafkan ketika menyadari bahwa peluang-peluang bagi rekonsiliasi, seperti
yang disampaikan dalam pidato Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kofi Annan tentang "dialog peradaban", sangat jarang diulang. Pernyataan
Annan hanya muncul dalam lima artikel sejak 11 September 2001.

Sebuah contoh utama tentang bagaimana penggunaan kata-kata tertentu
mempengaruhi penafsiran tentang konflik dapat dilihat dalam liputan perang
Irak. Media Arab menggambarkan peristiwa ini sebagai sebuah "penyerbuan" ,
sementara media AS menyebutnya sebagai "pembebasan" .

Sebuah kajian mandiri yang dilakukan oleh para peneliti George Washington
University menyimpulkan bahwa batasan-batasan AS tentang pelaporan media dan
upaya-upaya hubungan masyarakat di Irak secara umum telah berhasil, dan
menghasilkan "kegagalan media dalam menyiarkan gambaran koalisi, militer,
atau korban sipil Irak" serta "mencekoki para pemirsa dengan persepsi palsu
mengenai kekerasan seputar pendudukan yang dipimpin AS tersebut."

Satu catatan positif adalah bahwa lebih dari setahun terakhir telah ada
perubahan dalam peliputan kondisi di Irak, seiring dengan turunnya
kredibilitas pemerintah Amerika menyusul beberapa skandal terakhir. Kami
khususnya menghargai tindakan dari sebagian wartawan Amerika seperti Bob
Woodward dan Judith Miller, yang jurnalisme investigatifnya telah berperan
meningkatkan standar akuntabilitas yang harus dipikul oleh pemerintahan
Bush.

Media Arab sama bersalahnya dalam hal pelaporan yang berat sebelah. Media
Arab cenderung untuk mengutuk berbagai kekerasan yang dilakukan AS di Irak
(seperti skandal penjara Abu-Gharib) tanpa kutukan yang sama kerasnya
terhadap tindak-tindak kekerasan yang dilaukan oleh para teroris di Irak.
Tak berbeda dengan kolega-kolega mereka di AS, mereka pun jarang menyiarkan
liputan-liputan mengenai usaha-usaha rekrutmen teroris di negara-negara Arab
yang bertanggung jawab atas ribuan tentara asing di Irak, atau kegagalan
pemerintahan Arab menghentikan berbagai usaha tersebut. Pelaporan lebih
sering memusatkan perhatian pada kegagalan "pendudukan" Amerika, atau
tentang konflik internal Shiah-Sunni di Irak.

Apa yang sering luput dilaporkan dalam pers Arab adalah kenyataan bahwa
banyak kekerasan di Irak terdiri atas teror bom di Baghdad. Walaupun
pecahnya berbagai kekerasan di luar Baghdad masih sering terjadi, ada banyak
wilayah di mana keamanan sedikit banyak menjadi stabil dan pembangunan
kembali infrastruktur Irak tengah dijalankan. Sayangnya, kegemaran media
akan sensasionalisme dimaknai sebagai pengeyampingan peristiwa pembukaan
kembali sebuah instalasi pengolahan air yang bermanfaat bagi ribuan orang
dan perhatian penuh pada peristiwa-peristiwa kekerasan.

Surat ini bukan sebuah upaya untuk mengecilkan simpati kebangsaan atas para
wartwan Amerika dan Arab atau untuk menohok karya ribuan wartawan di seluruh
dunia yang mempertaruhkan nyawa mereka demi sebuah berita. Surat ini adalah
upaya untuk menunjukkan bahwa media massa sangat berpengaruh dalam
pembentukan opini masyarakat dan karena itu obyektivitasnya sangatlah
penting.

Sebagai warga dunia, kami percaya bahwa media harus memenuhi standar
keadilan dan obyektivitas mereka sendiri. Dalam sebuah dunia di mana
informasi dan misinformasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya, kita
harus menuntut media kita berbuat lebih banyak dari sekedar memanjakan diri
dalam sensasionalisme. Menuntut mereka agar siap menyediakan informasi dan
pandangan yang mungkin berbenturan dengan pendapat dan keyakinan politik
pemirsa domestik. Media seharusnya berusaha untuk memajukan kesadaran,
pengetahuan, pengertian, dan toleransi yang lebih besar, bukannya ikut
memperkuat bias-bias yang ada.

Kami menyerukan para wartawan dunia, khususnya wartawan Barat dan Arab,
untuk bersatu merancang panduan etika dan secara resmi mengutarakan dukungan
mereka bagi pelaporan yang obyektif dan tidak bias tanpa memandang
kebangsaan mereka, mungkin melalui sebuah kongres wartawan internasional
yang akan bekerja meningkatkan standar pelaporan seluruh dunia. Mereka
seharusnya mendorong semangat pencarian bagaimana bias termanifestasikan
(melalui pilihan kata, laporan yang berat sebelah) dalam sudut pandang-sudut
pandang yang diangkat oleh media, dan mempromosikan usaha-usaha menghasilkan
laporan yang mempertanyakan pandangan banyak orang. Pembahasan sederhana
dari berbagai isu ini oleh para wartawan dari berbagai latar budaya akan
sangat berarti bagi peningkatan kesadaran akan laporan bias yang menghambat
pemahaman dan memperkuat stereotype, sehingga harus dihindari.

###

* Adam Maruyama kini sedang mempelajari hubungan internasional di Georgetown
University di Washington, D.C. Yousef Amin Gamal El Din adalah mahasiswa
senior American University di Kairo, tempat ia menyelesaikan gelar B.A.
dalam jurnalisme dan komunikasi Massa. Artikel ini disebarluaskan oleh
Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di
www.commongroundnew s.org.

Kamis, 12 Juni 2008

Untukmu Para Mujahidd



FPI dan Ormas Islam Lainnya , Nonton Euro Yukk..

Ditengah maraknya pro dan kontra terhadap tindakan dan perjuangan Laskar Front pembela Islam (FPI) dalam membubarkan Ahmadiyah, masyarakat Indonesia juga dihangatkan dengan adanya event sepakbola Euro Cup 2008 yang menampilkan permainan terbaik olahraga sepakbola di Eropa. Walaupun saya tidak memahami permainan dengan satu bola dan sebelas pemain ini dan tidak begitu menyukainya, namun saya sangat ingin mengajak rekan rekan di FPI dan ormas Islam lainnya untuk ‘’Main bola yuk….. ‘’atau setidaknya ‘’kita nonton bola yuk.. ‘’

Kenapa? karena walaupun permainan bolakaki tidak lepas dari kepentingan bisnis industri raksasa, namun permainan ini mampu menghiptonis jutaan umat manusia di dunia, bukan semata mata dari nilai Funnya saja, namun juga pada nilai nilai kebersamaan yang coba diungkapkanya.

Bukankah untuk mendapatkan satu kemenangan tim sepakbola yang terdiri dari Kipper, Penyerang, Sayap Kanan/kiri, Gelandang kiri dan kanan, Bek harus selalu kompak, Begitu sudah sampai diclapangan hijau semuanya hanya mempunyai satu tujuan yaitu Gol, walaupun Striker berada di posisi paling depan bukan berarti semua kemashuran ada padanya, bukan berarti ia sendiri yang menguasi bola dan menjadi hebat sendiri, namun gol hanya bisa ditendangnya kalau ada kerjasama dengan Sayap dan Gelandang yang siap mendukungnya, begitu juga dengan Kipper, walaupun ia penguasa gawang dan hanya ia sendiri yang berhak tegak di tengah jaring megah itu namun ia mempunyai ketergantungan sangat tinggi kepada bek yang ada didepanya, karena merekalah yang meredam serangan lawan. semuanya bekerjasama untuk satu tujuan, kemenangan.
Dan begitu juga ketiga gol kemenagan disorrakan, maka seluruh anggota tim lari dan saling berpelukan untuk merayakan tidak perduli bau keringat yang sudah mengasin dibadan, atau ketika gawang kebobolan gol dari lawan tidak hanya kipper yang tertunduk lesu namun semua kesebalasan saling mentautkan tangan untuk menyemangatkan. Sekali lagi saya akui saya tidak memahami permainan dominan kaum lelaki ini tapi saya sangat ingin mengajak kita semua untuk nonton bola yuk…

Betapa tidak, alangkah indahnya ketika striker kita FPI maju kedepan untuk menyatakan sebuah kebenaran, harusnya ada sebuah penyadaran dari kita semua bahwa bola yang dibawa FPI bukan hanya membawa hati nurani mereka saja, namun juga keinginan kita untuk melihat Islam dijalankan dengan sebenarnya dan Kaffah. Bukankah hampir semua komponen Islam dari awal sudah menyatakan tidak setuju dengan aliran Ahmadiyah ? hanya saja FPI yang kebagian tugas menjadi Strikernya. Tapi ketika strikernya menyerang kita yang berperan sebagai Bek, sebagai sayap, sebagai gelandang dan Kipper malah bertingkah berbeda? ada yang mengumpat, ada yang mendukung, ada yang menutup muka dan ada juga yang pura pura tidak kenal padahal sama sama dilapangan yang sama yang menyatakan menuju kebenaran.

Lalu kenapa ketika mereka sudah melakukan gerakan itu dan kita malah menyalahkan tanpa adil? benar kekerasan tidak dibenarkan? benar yang dianiya harus dilindungi HUkum, tapi mari cermat kita lihat kenapa massa AKBB ketika diserang malah tidak ada yang melawan?padahal semut aja diinjak melawan? rasanya ganjjil saja seakan akan ada scenario dibalik pasrahnya massa itu.

Tapi Kita lupakan saja , benar ayo lupakan saja, kita kembali ke bola, serangan dari FPI sudah menghasilkan gola SKB tiga menteri tentang Ahmadiyah, lalu bagaimana kita bersikap? masih menyalahkan FPI atau malah ikut sama sama memeluk mereka? atau mencari striker baru?
Kalau kita tanya sikap Gus Hinddink pelatih hebat saat Wordcup beberapa tahun yang lalu, tentang bagaimana sikapnya kalau ada strikernya yang dianggap lancang menyerang namun akhirnya melahirkan gol, maka saya yakin mukanya akan memerah dan ia seperti kita yang merasa malu hati untuk mengakui sebuah kebenaran.
Namun tidak ada pengakuan yang harus disampaikan disini, karena sekarang yang terpenting bagaimana kebersamaan dalam sebuah tim untuk membela kebenaran senatiasa bisa kita tingkatkan, kita perlu memperat kembali ikatan yang mulai lentur dan menguatkan kembali kebersamaan yang sedikit goyah. untuk itu ..Nonton Euro yuk…..

Design by Amanda @ Blogger Buster