Rabu, 18 Juni 2008

Surat Terbuka untuk Para Wartawan

Adam Maruyama dan Yousef Gamal El Din
Sumber: Kantor Berita Common Ground, 16 Maret 2007
Dipost dari: http://frirac.multiply.com/journal/item/20 18 Juni 2008

Washington, D.C./Kairo, Mesir : Kami menulis sebagai warga Amerika dan dunia
Arab untuk meminta kepada Anda, para wartawan, agar berusaha lebih keras
untuk memastikan dan mendorong pelaporan berita yang obyektif dan akurat.

Semakin jelas sekarang bahwa laporan-laporan sensasional dari berbagai
saluran media di kedua wilayah kita � Amerika Serikat dan dunia Arab � hanya
memperburuk ketegangan-ketegang an yang ada. Berbagai laporan ini sering
dicirikan oleh kalimat-kalimat yang melodramatis, liputan yang tidak
seimbang, tuduhan yang tidak berdasar, dan komentar-komentar spekulatif.
Sering, media menggunakan gambar kekerasan dan kehancuran yang mencekam
daripada pertumbuhan dan pembaruan untuk menekankan pesan-pesan atau
pandangan-pandangan subyektif tertentu. Dalam surat terbuka untuk seluruh
wartawan di dunia ini, kami akan menggunakan dua konflik terakhir, yaitu
"Perang Melawan Teror" Amerika dan perang di Irak, sebagai contoh.

Dalam liputan media tentang "Perang Global Melawan Teror", media dan pilihan
kalimatnya telah memperlebar jurang yang membelah Barat dan Muslim di
seluruh dunia, mengganggu upaya-upaya penting pembangunan jembatan antara
keduanya. Sebagai contoh, New York Times menggunakan istilah "benturan
peradaban" Samuel Huntington dalam 140 artikel mereka sejak 11 September
2001; sebelumnya, istilah tersebut hanya digunakan dalam 24 artikel.
Walaupun pembahasan teori Huntington harus diakui tidak dapat dihindari
dalam membahas konflik yang sedang terjadi, namun jadi sangat sulit
dimaafkan ketika menyadari bahwa peluang-peluang bagi rekonsiliasi, seperti
yang disampaikan dalam pidato Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
Kofi Annan tentang "dialog peradaban", sangat jarang diulang. Pernyataan
Annan hanya muncul dalam lima artikel sejak 11 September 2001.

Sebuah contoh utama tentang bagaimana penggunaan kata-kata tertentu
mempengaruhi penafsiran tentang konflik dapat dilihat dalam liputan perang
Irak. Media Arab menggambarkan peristiwa ini sebagai sebuah "penyerbuan" ,
sementara media AS menyebutnya sebagai "pembebasan" .

Sebuah kajian mandiri yang dilakukan oleh para peneliti George Washington
University menyimpulkan bahwa batasan-batasan AS tentang pelaporan media dan
upaya-upaya hubungan masyarakat di Irak secara umum telah berhasil, dan
menghasilkan "kegagalan media dalam menyiarkan gambaran koalisi, militer,
atau korban sipil Irak" serta "mencekoki para pemirsa dengan persepsi palsu
mengenai kekerasan seputar pendudukan yang dipimpin AS tersebut."

Satu catatan positif adalah bahwa lebih dari setahun terakhir telah ada
perubahan dalam peliputan kondisi di Irak, seiring dengan turunnya
kredibilitas pemerintah Amerika menyusul beberapa skandal terakhir. Kami
khususnya menghargai tindakan dari sebagian wartawan Amerika seperti Bob
Woodward dan Judith Miller, yang jurnalisme investigatifnya telah berperan
meningkatkan standar akuntabilitas yang harus dipikul oleh pemerintahan
Bush.

Media Arab sama bersalahnya dalam hal pelaporan yang berat sebelah. Media
Arab cenderung untuk mengutuk berbagai kekerasan yang dilakukan AS di Irak
(seperti skandal penjara Abu-Gharib) tanpa kutukan yang sama kerasnya
terhadap tindak-tindak kekerasan yang dilaukan oleh para teroris di Irak.
Tak berbeda dengan kolega-kolega mereka di AS, mereka pun jarang menyiarkan
liputan-liputan mengenai usaha-usaha rekrutmen teroris di negara-negara Arab
yang bertanggung jawab atas ribuan tentara asing di Irak, atau kegagalan
pemerintahan Arab menghentikan berbagai usaha tersebut. Pelaporan lebih
sering memusatkan perhatian pada kegagalan "pendudukan" Amerika, atau
tentang konflik internal Shiah-Sunni di Irak.

Apa yang sering luput dilaporkan dalam pers Arab adalah kenyataan bahwa
banyak kekerasan di Irak terdiri atas teror bom di Baghdad. Walaupun
pecahnya berbagai kekerasan di luar Baghdad masih sering terjadi, ada banyak
wilayah di mana keamanan sedikit banyak menjadi stabil dan pembangunan
kembali infrastruktur Irak tengah dijalankan. Sayangnya, kegemaran media
akan sensasionalisme dimaknai sebagai pengeyampingan peristiwa pembukaan
kembali sebuah instalasi pengolahan air yang bermanfaat bagi ribuan orang
dan perhatian penuh pada peristiwa-peristiwa kekerasan.

Surat ini bukan sebuah upaya untuk mengecilkan simpati kebangsaan atas para
wartwan Amerika dan Arab atau untuk menohok karya ribuan wartawan di seluruh
dunia yang mempertaruhkan nyawa mereka demi sebuah berita. Surat ini adalah
upaya untuk menunjukkan bahwa media massa sangat berpengaruh dalam
pembentukan opini masyarakat dan karena itu obyektivitasnya sangatlah
penting.

Sebagai warga dunia, kami percaya bahwa media harus memenuhi standar
keadilan dan obyektivitas mereka sendiri. Dalam sebuah dunia di mana
informasi dan misinformasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya, kita
harus menuntut media kita berbuat lebih banyak dari sekedar memanjakan diri
dalam sensasionalisme. Menuntut mereka agar siap menyediakan informasi dan
pandangan yang mungkin berbenturan dengan pendapat dan keyakinan politik
pemirsa domestik. Media seharusnya berusaha untuk memajukan kesadaran,
pengetahuan, pengertian, dan toleransi yang lebih besar, bukannya ikut
memperkuat bias-bias yang ada.

Kami menyerukan para wartawan dunia, khususnya wartawan Barat dan Arab,
untuk bersatu merancang panduan etika dan secara resmi mengutarakan dukungan
mereka bagi pelaporan yang obyektif dan tidak bias tanpa memandang
kebangsaan mereka, mungkin melalui sebuah kongres wartawan internasional
yang akan bekerja meningkatkan standar pelaporan seluruh dunia. Mereka
seharusnya mendorong semangat pencarian bagaimana bias termanifestasikan
(melalui pilihan kata, laporan yang berat sebelah) dalam sudut pandang-sudut
pandang yang diangkat oleh media, dan mempromosikan usaha-usaha menghasilkan
laporan yang mempertanyakan pandangan banyak orang. Pembahasan sederhana
dari berbagai isu ini oleh para wartawan dari berbagai latar budaya akan
sangat berarti bagi peningkatan kesadaran akan laporan bias yang menghambat
pemahaman dan memperkuat stereotype, sehingga harus dihindari.

###

* Adam Maruyama kini sedang mempelajari hubungan internasional di Georgetown
University di Washington, D.C. Yousef Amin Gamal El Din adalah mahasiswa
senior American University di Kairo, tempat ia menyelesaikan gelar B.A.
dalam jurnalisme dan komunikasi Massa. Artikel ini disebarluaskan oleh
Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di
www.commongroundnew s.org.

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster