Jumat, 26 September 2008

Tragedi Zakat….dan Janji Pembukaan UUD 45




Dalam beberapa tahun ini kita selalu disuguhi dengan kenyataan yang memiriskan hati, tragedi yang timbul dalam pelaksanaan zakat yang merupakan salah satu dari rukun Islam. 2007 yang lalu masyarakat Lamongan berdesak - desakan hingga banyak yang pingsan demi mendapatkan rupiah, lalu 2008 ini peristiwa tragis itu kembali terjadi dengan Pasuruan, ribuan masyarakat berdesak desakan menunggu berkah dari orang kaya dan akhirnya saling berhimpitan dan 21 nyawa melayang.

Ironis memang…karena nyawa sang ibu yang masih dibutuhkan anak anaknya, nyawa Nenek yang sangat disayangi keluarganya atau nyawa sang kakak yang menjadi tumpuan keluarga hilang hanya karena untuk mendapatkan uang Rp 30 ribu, jumlah yang bagi anggota DPR hanyalah untuk bayar parker kendaraan mereka saja, namun hanya sebesar itulah harga nyawa masyarakat Indonesia. Disaat para koruptor dengan nyaman memasukkan uang RP 30 juta, Rp 300 Juta, Rp 3 miliar ke kantong mereka , sementara Rp 30 ribu sudah memutuskan kehidupan anak manusia.

Dalam perenungan, saya benar benar merasa miris, begitun murahkah harga nyawa rakyat di negeri ini, dimana dalam peryataan pendiri bangsa diikrarkan; untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan tumpah darah Indonesia. Negeri yang kaya, magrifah lo jinawi dan apapun namanya, namun pada kenyataannya hingga hari ini masih menjadi penghias Undang undang saja, dan masih sebatas WACANA….

Barangkali kalau Soekarno dan mereka yang menyusun kalimat itu masih hidup dan melihat kenyataan ini maka mereka akan meminta penghapus, atau menekan tombol delet untuk kalimat preambule UUD tersebut. Memalukan!.

Kenyataan yang ada di Indonesia saat ini belum ada satupun yang bisa melindungi rakyat ini, apalagi mensejahterakan mereka seperti yang diamanatkan undang undang dasar. Bahkan rakyat selalu menjadi bamper dari semua kebijakan Negara. Ketika Negara ini berhutang maka pihak penghutan (luar negeri) dengan seenaknya memberikan aturan yang menyiksa, salah satunya mencabut subdisi BBM. Dan akibatnya… rakyat kecil juga yang tercekik, karena bagi mereka yang tidak punya kendaraan….ini sangat menyiksa, tarif angkot naik, harga sembako melayang….dan semuanya menjadi MAHAL..
Dan semua ini bukan hanya sekedar MAHAL.. namun juga SULIT DAN LANGKA…benar kata iklan A Mild : Kalau susah dinaikkan..kalau naik..disusahin.

Negara juga belum bisa melindungi rakyat dari kejahatan mereka yang mempunyai pikiran licik, daging sampah yang sudah membusuk , yang sudah berulat diolah kembali. Masyarakat miskin yang memang sangat jarang makan daging akhirnya membeli daging murah tersebut..rakyat yang sudah tidak merasakan nikmatnya makanan lezat sekarang dijejali dengan daging yang membusuk. Dimanakah janji dalam UUD dalam kondisi ini, kenapa tidak ada yang melindungi mereka dalam saat saat begini.

Sementara itu….para pemimpin, yang menyebarkan janji sebelum pemilu dan menebarkan pesona menjelang pilkada, hanya tertawa dengan kepongahan yang bertopengkan kepentingan rakyat…sementara yang mereka utamakan kepentingan itu menyuap sepotong demi sepotong..kebohongan dan kehancuran.

Maka saya sangat yakin..kalau mereka yang dulunya menyusun Preambule UUD 45 ini masih hidup, maka mereka akan marah dan bahkan tidak munkin akan merobek robek pembukaan UUD 45 tersebut.

Kembali ke Pasuruan….inilah gambaran nyata kehidupan bangsa Indonesia, rakyat yang sangat miskin sangat berharap dalam kedermawanan yang diekspos dimuka public, niat baik yang diajah - ajah kehadapan orang banyak, padahal dalam syariat sudah dikatakan: Kalau tangan kanan memberi maka sebaiknya jangan sampai kanan yang kiri tahu…, tapi..inipun sudah hilang dari kedermawanan masyarakat kita…

Tragedi Zakat ini ini juga melambangkan kepercayaan masyarakat kita kepada Amil Zakat dan badan lainnya yang dipercayakan mengurus persoalan kemaslahatan umat sudah tidak ada lagi,, ketidakjujuran mereka selama ini dalam mengelola harta masyarakat membuat mereka ingin menyalurkan sendiri zakatnya. Lalu dimanakah makna kepercayaan itu, kalau Amil zakat saja sudah tidak dipercaya..bagaimana dengan pemimpin bangsa..

Saya semakin yakin, kalau pendiri bangsa Ini masih hidup mereka tidak hanya akan menghapus prembule UUD 1945 saja namun juga mungkin akan menghapus bahkan membatalkan UUD 45 tersebut sehingga tidak akan ada janji yang tidak tertepati, tidak ada lagi wacana yang bisa menyesengsarakan rakyat…Wallahualam bisawab


Kampar, Ramadhan 1429 H

Kenapa saya menulis?

Dalam satu diskusi dalam milis para penulis muda, moderator bertanya ‘’tujuan seseorang menulis ‘’. Tema yang sudah biasa sebenarnya namun masih sangat menarik karena ini akan membuat seseorang menyadari motivasi apa yang membuatnya menulis, termasuk saya, karena banyak hal yang mendasari seseorang untuk menulis.

Pada dasarnya sebagai hamba yang beriman menulis adalah salah satu langkah kita menuju keridhaanNya karena apapun yang kita lakukan termasuk menulis hendaknya bisa menjadi ibadah, (tul nggak?), menulis barangkali bisa menjadi sarana saya untuk beribadah syukur-syukur bisa menjadi sarana dakwah dan membawa yang lain kearah perbaikan, tentunya perbaikan itu harus saya sendiri yang memulainya.

Disisi lain, menulis bagi saya mempunyai banyak tujuan, pertama saya sangat ingin menggambarkan apa yang saya lihat, menyampaikan apa yang saya dengar dan menjelaskan apa yang saya fikirkan. Yang terkadang..tidak bisa diluahkan dalam pembicaraan atau apapun selain menulis. Saya tidak bisa melukis, bahkan nilai menggambar saya disekolah sangat memalukan, bahkan hingga saat ini saya tidak bisa menggambar garis dengan lurus dan benar tanpa bantuan penggaris..(mengerikan ya), makanya satu satunya cara menggambarkan apa yang saya lihat ya dengan menulis…

Mungkin juga...karena saya orangnya kalau marah lebih banyak diam (padahal kalau lagi normal /lagi senang ) saya orangnya cerewet banget, kemarahan mampu membuat saya menutup mulut untuk tidak bicara dlaam beberapa lama, biasanya muara dari kemarahan itu adalah menulis dan anehnya cara ini selalu.....Manjur. kemarahan berkurang..sehingga saya bisa berfikir..ternyata masalahnya.. tidaklah seberat itu.

Kadang juga...saya menyadari bahwa saya untuk beberapa hal adalah introvent, sangat tertutup, sehingga kadang kadang awan kesedihan dan kelukaaan seakan akan enggan mampir dalam hidup saya, padahal...hujan kesedihan dan badai kelukaan sudah memporak porandakan hati dan hidup saya. Hanya saja saya selalu berusaha tampilkan senyum dan tawa diwajah saya, tangis dan luka hanyalah saya uraikan pada Tuhan ...dan pada Tulisan.

Dari semua itu...agaknya tujuan menulis bagi saya adalah..sesuatu yang bersifat objektif , untuk meluahkan kemarahan, untuk menyusutkan kesedihan dan untuk menguraikan kelukaan. Bahkan tak jarang menulis adalah untuk membesarkan diri sendiri, memuji diri sendiri….tapi….siapa lagi yang memuji kalau tidak saya sendiri (he he he ) Saya harus dengan jujur mengakui bahwa ..menulis bagi saya benar benar bertujuan Objektif dan untuk kepentingan pribadi.

Namun seiring perjalanan usia dan waktu..saya bermimpi dalam hati satu saat tulisan saya benar benar mampu menjadi hikmah dan sesuatu yang berguna, pertama berguna bagi orang lain (seperti memberikan pengetahuan, hiburan dan lainnya lainya) dan kedua ..syukur syukur kalau berguna bagi pribadi saya (lagi nee), seperti menjadi terkenal misalnya...., ya siapa tahu satu saat nanti tulisan saya bisa menjadi buku dan siapa tahun juga bukunya bisa terkenal dan dibeli banyak orang , bisa menjadi kaya dan terkenal, seperti Habiburahman misalnya..atau seperti JK rowling. Wah hebat nee…

Hanya satu yan pasti, menulis menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan saya saat ini, Ya iyalah, pekerjaan saya sebagai reporter saja setiap harinya mewajibkan saya menulis, saya juga lebih banyak berkomunikasi dengan tulisan, sehingga saya dengan cuek mungkin bisa mengatakan: tujuan saya menulis... ''agar saya tetap hidup karena menulis tidak bisa dipisahkan dari kehidupan saya '', ya kalau tidak menulis maka saya nggak bekerja..kalau nggak bekerja ..ya nggak makan..

Namun saya juga menyadari... .saya belum bisa berbuat apa apa dalam tulisan saya, saya masih perlu banyak belajar sehingga apa yang saya tulis tidak hanya menjadi tulisan kosong belaka dan habis bagaikan embun yang menguap ditimpa mentari. Dalam tulisan saya terkadang terkesan garing dan tidak menyentuh..walaupun saya setiap harinya menulis…….saya memang masih perlu banyak belajar……..

Kampar, ramadhan 1429 Hijriah



Mirip Abah Bukan…?

Memakai pakaian atau baju bukanlah hal yang menyulitkan bagi Bintang, selama ini dia selalu mau kalau dipakaikan baju apa saja, ini agak berbeda dengan sepupunya yang lain yang selalu memilih pakaian yang akan mereka pakai. Syukurnya selama ini Bintang tidak begitu.


Hanya saja sekarang mulai berubah…Bintang mulai menolak, Bintang tidak mau memakai pakaian yang lain dari biasa, misalnya karena dia hanya biasa memakai kaos biasa maka ketika dipakaikan dasi dia awalnya menolak, namun akhirnya mau memakainya juga. Begitu juga diberikan dengan baju yang modelnya lain dari biasanya. Sebagai Ibu terkadang saya ingin menampilkan dia agak modis karena senang dan gemas rasanya melihat Bintang berdadan agak lain.

Begitu juga ketika saya pulang dari Umroh beberapa bulan yang lalu, saya membelikan Bintang beberapa baju gamis. Awalnya saya khawatir nantinyan BIntang menolak, karena gamis kan berbeda dari kaos oblong yang biasa dipakainya. Namun ternyata…itu tidak terbukti, Bintang santai santai saja memakai pakaian itu. Duh..senangnya, apalagi ketika Bintang memakai gamis dalam acara keluarga dan ke mesjid, anakku itu benar benar terlihat sangat keren..

Dan ketika aku hendak mengambil fotonya dengan memakai baju gamis dan sorban barulah aku tahu kenapa anakku menyukai baju gamis. ‘’Bunda…Bintang mirip Abahkan..tuh lihat foto Abah ? ‘’ ujarnya sambil menunjuk foto Abangku yang berfoto dengan istrinya saat menunaikan ibadah haji. Aku terpana langsung tergelak..ooo jadi ini sebabnya? Ternyata selama ini ia mau memakai pakaian itu karena mirip Abahnya toh?

Dan setelah kufikir fakir..Bintang selama ini memang selalu suka memakai sesuatu kalau itu dipakai Abah atau abangnya, seperti ketika ia memakai kaos dengan model Army US, baju itu menjadi baju kesayanagnnya karena Abdi abannya juga suka memakai kaos dengan model itu, dan sekarang mode gamis Abahnya yang menjadi ikutan. Duh..anakku..

Dan akupun memotretnya dengan pose seperti Abahnya ketika ditanah suci, lengkap dengan gamis dan sorban, juga tasbih.Bahkan ketika difoto Bintang menirukan gaya Abahnya ketika berzikir, gelenngan kepala dan mulut yang komat-kamit. Anakkku ini…

Sekarang aku sudah punya cara jitu untuk memakaikan pakaian baru padanya, aku hanya mengatakan kalau BIntang memakai pakaian itu maka ia akan mirip Abahnya, Abangnya atau siapa saja dalam keluarga kami…dan biasanya itu manjur.

Indahnya
Kampar, Ramadhan 1429 H /27 september 2008

Bukan Pilihan Biasa ...



Kenapa sih mau bercerai? Lho kok kamu meninggalkan suamimu? Nggak takut dicap janda? Janda itu status mengerikan lho…., bukan hanya bagi keluargamu juga bagi sahabatmu dan orang lain. Bahkan bagi dirimu sendiri?


Memang benar…ketika memutuskan untuk pulanng ke rumah orang tua dan meninggalkan suami dengan konsekwensinya menjadi singleparent yang bahasaya indahnya adalah ‘’Janda ‘’’, maka pertanyaan diatas selalu memenuhi kepalaku, bahkan bukan hanya itu..hantu ketakutan juga selalu berusaha mencengkramkan kukunya dalam dada sehingga sesak terasa begitu…. menyiksa.


Sanggupkah aku? Sangggupkah aku menghadapi pandangan masyarakat sekitarku yang selama ini memandang setara bahkan ada yang menghormati , lalu tiba tiba memandang kita sebelah mata? Wah lakinya aja ditinggal..pantaskah itu? Bukankah suami adalah junjungan hidup, yang dicuci kakinya, diusap dan dicium tangannya?


Sanggupkah aku?, memandang rasa iba dan cemooh sahabat dan teman temanku dulu ? yang dulunya selalu mengadu soal cowok cowok mereka? Yang dulunya selalu bertanya tentang pelajaran , yang dulunya memuja karena aku aktifism sang juara kelas, sang ketua ini… ketua itu…….namun sekarang…’’Janda ‘’


Sanggupkah aku? Menghadapi tatapan sendu mata Bunda dan saudara saudara lain, sanggupkah aku mengusir rasa malu Bunda karena mempunyai anak yang selama ini dibangga banggakan ternyata akhirnya menjadi Janda? Mampukah aku mengusap air mata Bunda yang selalu menetes melihat putrinya harus bekerja sendiri untuk anaknya..


Sanggupkah aku ?..menghadapi tatapan ketakutan perempuan lain yang khawatir suaminya digoda? Bukankah janda selalu ‘’ miang ‘’ (gatal), bukankah janda selalu tampak lebih menggoda dari perawan biasa?.


Dan yang terpenting sanggupkah aku..menjawab tanya mata anakku yang heran melihat bundanya tidur sendiri, yang bertanya kenapa dirumah hanya ada dia dan bundanya saja. Sanggupkah aku menjawab sebuah tanya nantinya : Dimana Ayah Bintang Bunda? ‘’

Itu masih mending..bagaimanakah aku harus membujuk anakku kalau suatu saat nanti dia pulang dengan menangis lalu mengadu : Bunda..mereka ejek Bintang Karena tidak punya Ayah..


Dan yang terpenting lainnya sanggupkah aku hidup sendiri terus?..karena siapakah yang akan mau menikah dengan perempuan yang sudah punya anak, yang pastinya ‘’bekas ‘’orang lain. Sanggupkah aku menjalani hari tua sendirian…tanpa ada seseorang untuk teman menangis? Untuk bersendagurau disaat renta menantang..


Pertanyaan pertanyaan ini selalu menghantuiku… bahkan masih sering terdengar dari orang orang sekelilingku. Namun setelah aku merenungi kedukaan dalam pernikahanku..membasuh muka dengan air mata kesedihanku dan menolak membaca kemarahanku aku akhirnya meyakini satu hal…


Aku memang takut menghadapi tatapan rendah orang lain..namun aku lebih takut menghadapi rendahnya penilaianku pada suamiku tercintam kelukaan yang ditimbulkkannya pada hatiku membuat rasa hormatku padanya berkurang…dan semakin berkurang.., Suamiku adalah Imam dalam hidupku, aku meletakkan kepatuhanku padanya nomor dua setelah Tuhan Namun…keinginannya, nafsunya dan sifatnya membuat kepatuhanku kepadanya berkurang. Aku memilih meninggalkan imamku..daripada aku menjadi makmum yang durhaka padanya…biarlah aku tidak mendapatkan pahala dengan mengusap dan mencium kakinya..namun aku juga terhindar dari dosa melawan dan durhaka padanya..sungguh laknat istri yang melawan suami lebih aku takuti….daripada kesabaran menghadapi pandangan mereka yang memandang hina aku yang tak bersuami.


Aku memang takut menghadapi pandangan teman temanku..namun aku lebih takut menghadapi kehancuranku sendiri, mengalah untuk tahun tahun yang menyiksa, menanti perubahan yang takkan pernah ada. Sementara itu usia semakin berlanjut dan aku terus tersiksa. Biarlah aku kalah dimata mereka karena tidak bersuami..namun aku menang untuk kebahagiaanku… bukankah semua orang berhak untuk bahagia? Termasuk aku..


Aku memang takut menghadapi pandangan sedih mata Ibunda,..namun aku lebih takut menyembunyikan kebohonganku padanya, Bundaku selalu tahu bahwa aku pulang sendiri bukan karena suami lagi lembur tapi karena kami bertengkar, Bunda tahu sembab mataku bukan karena terlalu kurang tidur dan terlalu banyak dikomputer namun karena aku terlalu sering menangis..Bunda tahu..rumah ku adalah nerakaku. Mungkin ini saatnya bagi Bunda untuk belajar bahwa anaknya adalah manusia biasa yang bisa saja gagal.


Aku takut….menjawab tanya anakku…namun aku lebih takut kalau ia tumbuh dalam suasana pertengkaran…dan kecamuk orang tuanya. Bintang memang tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh, Namun ia tidak merasakan pekik pertengkaran orang tuanya, ia tidak harus menyaksikan bundanya menangis karena dibentak dan dimaki Ayahnya..dengan sayap kasih saying yang hanya sebelah…Bintang mungkin agak lambat terbang..namun ia bisa menjelajah dunia, karena hatinya..belum terluka


Terakhir…aku memang takut hidup sendiri..hingga tua .namun aku lebih takut meratap dan menyesali nasib saat tua nanti. Karena kalau tidak dimulai sekarang..lalu kapan aku bisa memulai langkah untuk bahagia. Kalau memang Tuhan tidak mengirimku…. (lagi) teman untuk menangis..maka aku akan menangis pada-Nya..Bukahkah Dia Maha Peredam tangis?


Sekarang…TERNYATA… ketakutan itu tidak semuanya berwujud nyata… masih banyak orang yang bisa menerima kehadiranku, ternyata banyak teman temang yang tetap menyokongku..dan memelukku dengan hangat. ‘’Kamu tetap teman kami apapun dirimu saat ini, ‘’.


Bundaku sudah tersenyum lagi melihat putrinya menjalani kesendirian dengan senyum dan tawa yang lepas, saudara saudara selalu ada kapanpun kuinginkan..dan Bintangku…dengan tawanya yang selalu terlihat Indah …tidak perduli dengan ketiadaan Ayahnya..dia selalu gembira dan berkata ‘’Bunda…Ayun..Cayang….bunda Cangat ( Sahrul Sayang Bunda Sangat..)


Lalu….haruskah aku menyesali pilihan ini..? memang ini bukan pilihan yang biasa dan aku tidak menyesal telah memilihnya..



Selasa, 09 September 2008

Menciptakan Anak Pintar Sejak Dalam Kandungan

Adalah hal yang sangat naif, ketika seorang anak menjadi bodoh, nakal, pemberang, atau bermasalah, lalu orang tua menyalahkan guru, pergaulan di sekolah, dan lingkungan yang tidak beres. Tiga faktor itu hanya berperan dalam proses perkembangan anak, sedangkan bakat anak itu menjadi bodoh, nakal, atau pemberang justru terletak dari bagaimana orang tua memberikan awal kehidupan si anak tersebut



Bukan hal aneh bahwa seorang anak dapat dididik dan dirangsang kecerdasannya sejak masih dalam kandungan. Malah, sejak masih janin, orang tua dapat melihat perkembangan kecerdasan anaknya. Untuk bias seperti itu, orang tua harus memperhatikan beberapa aspek, antara lain terpenuhinya kebutuhan biomedis, kasih sayang, dan stimulasi. Hal ini diungkap dokter spesialis anak, dr Sudjatmiko, MD SpA

Bicara tentang kecerdasan, tentu saja tidak bisa lepas dari masalah kualitas otak, sedangkan kualitas otak itu dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Secara prinsip, menurut Sudjatmiko, perkembangan positif kecerdasan sejak dalam kandungan itu bisa terjadi dengan memperhatikan banyak hal. Pertama, kebutuhan-kebutuhan biologis (fisik) berupa nutrisi bagi ibu hamil harus benar-benar terpenuhi. Seorang ibu hamil, gizinya harus cukup. Artinya, asupan protein, karbohidrat, dan mineralnya terpenuhi dengan baik.


Selain itu, seorang ibu hamil tidak menderita penyakit yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak dalam kandungannya. Kebutuhan nutrisi itu sendiri, sebenarnya bukan hanya ketika ibu mengandung, melainkan ketika ia siap untuk mengandung pun sudah harus memperhatikan gizi, makanan, dan komposisi nutrisinya harus lengkap, sehingga ketika ia hamil, dari segi fisik sudah siap dan proses kehamilan akan berlangsung optimal secara nutrisi.

Tapi, memang di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya–boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Malah, kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.


Faktor kedua adalah kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Tanpa kasih sayang, tumbuh kembangnya bayi tidak akan optimal. "Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya, " kata mantan Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Anak Indonesia itu. "Risiko itu, misalnya, seorang wanita karier yang hamil, merasa terbebani dan khawatir akan mengganggu pekerjaannya. Ia sebenarnya ingin hamil, tapi juga merasa terganggu dengan kehamilannya itu. Kondisi seperti ini tidak kondusif untuk merangsang perkembangan bayi dalam kandungannya, " tambahnya.


Selain itu, menurut Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini, ada faktor psikologis yang memengaruhi perkembangan kecerdasan bayi, yaitu apakah si ibu hamil menikah secara resmi atau kawin lari. Pernikahannya direstui atau tidak, dan apakah ada komitm en antara istri dan suami. Tanpa komitmen di antara keduanya, kehamilan itu bias dianggap mengganggu.


Juga harus ada support (dukungan). Tanpa support, walaupun ada komitmen dari suami dan orang tua dapat mengurangi perkembangan dan rangsangan kecerdasan bayi dalam kandungan. "Jadi, variabel kasih sayang tadi adalah komitmen dengan suami, serta support dari orang tua dan keluarga, sehingga seorang ibu dapat menerima kehamilannya dengan hati tenteram," lanjut Sudjatmiko.


Faktor ketiga adalah adanya perhatian penuh dari si ibu hamil terhadap kandungannya. Ia dapat memberikan rangsangan dan sentuhan secara sengaja kepada bayi dalam kandungannya. Karena secara emosional akan terjadi kontak. Jika ibunya gembira dan senang, dalam darahnya akan melepaskan neo transmitter zat-zat rasa senang, sehingga bayi dalam kandungannya juga akan merasa senang


Sebaliknya, bila si ibu selalu merasa tertekan, terbebani, gelisah, dan stres, ia akan melepaskan zat-zat dalam darahnya yang mengandung rasa tidak nyaman tersebut, sehingga secara tidak sadar bayi akan terstimuli juga ikut gelisah. "Yang paling baik adalah stimuli berupa suara-suara, elusan, dan nyanyian yang disukai si ibu. Hal ini akan
merangsang bayi untuk ikut senang. Berbeda jika si ibu melakukan hal-hal yang tidak disukainya, karena itu sama saja memberikan rangsangan negatif pada bayi," ujar Sudjatmiko.

Tapi, stimuli itu sendiri lebih efektif bila kehamilan sudah menginjak usia di atas enam bulan. Sebab, pada usia tersebut jaringan struktur otak pada bayi sudah mulai bisa berfungsi.

Untuk mendapatkan kondisi-kondisi itulah, seorang ibu hamil harus tetap menjaga nutrisi yang didapat dari makanan sehari-hari. Bahkan, perlu diimunisasi, misalnya dengan suntik TT. Lakukan juga konsultasi rutin dengan dokter secara berkala. Mula-mula sekali sebulan, dan pada bulan terakhir menjelang kelahiran (partus), diperketat menjadi tiga minggu sekali, lalu dua minggu sekali, dan bahkan mendekati partus menjadi setiap minggu.

Sudjatmiko juga menyarankan untuk tidak meminum obat-obatan yang katanya bisa merangsang perkembangan dan kecerdasan otak bayi. Obat-obatan semacam itu hanya omong kosong. "Pemberian obat semacam itu percuma saja, dan tidak berpengaruh apa-apa," katanya. "Yang penting, ciptakan saja lingkungan mendidik, yaitu tiga faktor tadi.


Sementara itu, psikolog anak Dra Surastuti Nurdadi juga mengungkapkan pendapat yang sama. Stimulasi positif, menurutnya, memang dapat meningkatkan kecerdasan anak sejak dalam kandungan. Dari stimulasi ini, diharapkan ketika anak tumbuh, bukan hanya menjadi cerdas, melainkan dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. "Stimulasi
menimbulkan kedekatan antara ibu dan anak.



Bahkan, lanjut Surastuti, bayi masih dalam kandungan bisa distimuli dengan diperdengarkan musik klasik, diajak berbicara, dan diberikan elusan penuh kasih sayang. Orang tua juga harus siap dan berusaha mengajarkan cara anaknya bersosialisasi dengan dunia luar ketika ia masih di dalam rahim.


Tapi, mengapa musik klasik? Pendapat semacam ini memang terus menjadi topik bahasan. Musikus hebat seperti Adhi MS, pimpinan Twilite Orchestra, juga meyakini musik klasik dapat merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan. Bahkan, untuk jenis musik yang `merangsang bayi' ini sudah banyak dijual di toko-toko kaset tertentu.


Tapi, untuk lebih tuntasnya kupasan mengenai hal itu, coba kita simak penuturan Surastuti yang juga dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini. Musik klasik, katanya, memiliki berbagai macam harmoni yang terdiri dari nada-nada. Nada-nada inilah yang memberikan stimulasi berupa gelombang alfa. Gelombang ini memberikan ketenangan, kenyamanan, dan ketenteraman, sehingga anak dapat lebih berkonsentrasi.


"Menurut beberapa penelitian, musik klasik memang termasuk metode yang tepat. Anak menjadi siap menerima sesuatu yang baru dari lingkungannya, " ujar pengasuh rubrik konsultasi di Klinik Anakku ini. Tapi, jangan coba-coba memperdengarkan musik-musik keras kepada bayi dalam kandungan. Konon, justru menyebabkan timbulnya ebingungan pada si jabang bayi!

Senin, 08 September 2008

Sabar Dalam Syukur


Bersabar dalam rasa syukur atau bersyukur dalam kesabaran ? apapun jawabannya kedua entitas tersebut merupakan pokok keimanan. Iman terbagi menjadi dua, separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. (HR. Al-Baihaqi)



Bersyukur atas nikmat Allah mempunyai cakupan yang sangat luas baik yang telah ada pada diri kita maupun yang akan datang kepada diri kita. Didalam khutbah sering kali khotib mengajak kita bersyukur atas nikmat Islam , nikmat iman dan berbagai kenikmatan yang lainnya salah satunya seperti kesehatan.



Bersyukur bisa kita lakukan lewat perbuatan dan perkataan, dan bersyukur lewat perbuatan dibagi menjadi dua yaitu bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki untuk digunakan pada diri sendiri dan bersyukur terhadap apa yang telah kita miliki untuk digunakan bagi kebutuhan orang lain.


Bersabar dalam rasa syukur adalah syukur utuk diri sendiri dan hal ini bisa kita manifestasikan dalam syukur panca indera seperti bersyukur karena telah memiliki mata maka kita bersabar dalam melihat yang bukan hak kita, bersyukur karena telah memiliki mulut maka kita bersabar dalam berbicara yang tidak bermanfaat bahkan menimbulkan fitnah, bersyukur karena memiliki telinga berarti kita dituntut untuk bersabar dalam mendengarkan keluhan oranglain dan menahan diri dari mendengar ghibah dan seterusnya.


Seperti firman Allah " Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur "(Al Mu'minuun :78) hal senada terdapat pada surat (Al Mulk :23)



Bersyukur dalam kesabaran adalah wujud terimakasih kita kepada Allah bahwa kita di beri nikmat sabar, yaitu sabar dalam memberikan pertolongan kapada orang lain. "Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling pandai bersyukur kepada manusia". (HR. Ath-Thabrani) , karena pada hakekatnya rasa sabar juga pemberian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang disusupkan lewat hati orang yang di pilihNya.



Selama ini kita mempersepsikan energi sabar dan syukur sebagai energi diam (kepasrahan) padahal tidaklah demikian, didalam satu hadist Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam menerangkan "Dua hal apabila dimiliki oleh seseorang dia dicatat oleh Allah sebagai orang yang bersyukur dan sabar. Dalam urusan agama (ilmu dan ibadah) dia melihat kepada yang lebih tinggi lalu meniru dan mencontohnya. Dalam urusan dunia dia melihat kepada yang lebih bawah, lalu bersyukur kepada Allah bahwa dia masih diberi kelebihan". (HR. Tirmidzi) artinya bersabar dalah pergerakan menuju ridho Allah lewat usaha maksimal dalam urusan akherat dan berusaha menekan lonjakan nafsu duniawi lewat syukur.


Taken from: Lukman

Minggu, 07 September 2008

Di Bromo Aku Menunggu…..


Keletihan dan panas yang menyengat selama di Kota Subaraya ternyata sangat berbalik dengan hawa yang menyambut kami di Kota Malang, kami memasuki kota tersebut saat Isya datang dan hawa dingin langsung menusuk kulitku, jaket yang kubeli di Suarabaya ternyata tidak mampu menahan dinginnya. Sampai di Surabaya kami lansung menuju ke Kota Batu tempat penginapan, sempat tawar menawar dengan pengemudi taksi kami menuju ke hotel.

Dingin malah semakin bertambah dan badanku sudah mulai meriang, aku sempat bingung, mau mandi apa tidak ya? Kalau mandi airnya sangat dingin karena penginapan tidak menyediakan air panas , namun kalau tidak mandi badannya rasanya lengket semua karena berkeliling seharian di Surabaya, akhirnya dengan nekat aku mandi juga….dan ternyata aku memang demam.

Aku mencoba unuk tidur setelah minum obat sebelumnya, jam 12 malam aku dibangunkan teman teman, rombongan akan menuju ke Gunung Bromo, aduh…. Badan rasanya sakit semua dan udara dingin di kota Batu membuat kaki dan tanganku terasa sangat kaku. Namun imformasi mengenai Bromo yang kudengar selama ini sangat menarik hati dan aku sangat ingin kesana, akhirnya dalam kondisi demam aku bangun dan bersiap untuk ke Bromo. Kapan lagi? Tekadku dalam hati memberikan semangat


Bus melaju membawa kami ke Probolinggo, selama perjalanan aku mencoba untuk tidur, penjelasan dari Guide kami yang sebenarnya bernama Anang namun mempunyai panggilan Bejo tidak begitu kusimak, sakit kepala dan flu yang menyerangkau sepertinya tidak mau kompromi. Jam 2 pagi kami sampai di desa Tengger di bawah kaki puncak Bromo. Bejo mengajak rombongan untuk istirahat di salah satu warung makanan yang berjejer di sepanjang jalan jalur utara ini, hamper semua wisatawan yang ingin jalur praktis melewati jalur ini.

Bejo memesan segelas wedang jahe untukku, ia juga meminta agar pemilik warung meyediakan tunggku bara untuk kami dan alhamdulillah..akhirnya aku dapat menghangatkan diri. Bejo juga menyarankan agar aku menyewa jaket tebal yang ditawarkan penyewa jaket, dengan membayar 10 ribu aku mendapatkan jaket tebal dan kulengkapi dengan topi gazebo bergambar bromo, akhirnya tubuhku mulai enakkan. Thanks Bejo

Selama di Warung itu Bejo bercerita, menurutnya banyak jalur yang bisa dilewati dengan melalui jalur cagar alam Tengger, namun ini biasanya digunakan oleh para pendaki dan mereka yang suka bertualang, ada juga jalur melalui lautan pasir di didesa Tosari, namun jalurnya cukup berat juga.

Bejo juga bercerita menurutnya di sekitar Gunung Bromo berdiam masyarakat suku Tengger, dan bagi mereka Gunung Bromo adalah Gunung yang suco sehingga setahun sekali masyarakat suku Tengger ini melakukan upacara dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo, di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Dalam upacara masyarakat melemparkan berkah, uang atau makanan ke kawah gunung dan sebagian masyarakat yang lain mengambilnya.

Masyarakat suku Tengger juga tidak pernah khawatir dengan ancaman meletusnya gunung Bromo ini, bagi mereka Gunung Bromo adalah kehidupan mereka. Aku merenung.. kecintaan manusia pada tempat dan tanah kelahirannya memang sangat kuat dan aku juga begitu. Kampar bagiku adalah hidup dan matiku.

Sekitar jam 4 subuh kami menuju ke puncak gunung, perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit saja cukup menanjak dan sampai di puncak Bromo aku melongo wow…..indah sekali.dalam kegelapan, puluhan orang tegak dan duduk menunggu terbitnnya matahari, mereka memakai jaket tebal dan terdiri dari berbagai bangsa.

Sementara itu disisi kanan, aku melihat Gunung Semeru dengan asapnya yang mengepul, kawah Gunung Bromo…dan lautan pasir, asap tebal dari kawah gunung menggambarkan siluet raksasa yang seakan akan mencari mangsa dalam kerumunan manusia di Bromo, perlahan lahan cahaya jingga pengantar matahari muncul.

Aku menoba merenungi dalam keindahan Ciptaan yang Maha Kuasa ini, sungguh luar biasa ya Rabb….dalam ancaman letusan Bromo Kau ciptakan lukisan yang begitu Indah. Perlahan lahan matahari yang cantik muncul dan ini sungguh detik detik yang mengangumkan. Satu persatu juga wajah wajah terpesona mulai tampak disiram cahaya pagi.Usai menatam mentari yang sudah mulai sempurna aku menikmati pemamdangan kearah kawah Gunung dan Lautan pasir, tak kalah Indahnya.

Aku berdiri ditepian Tebing dan memandang alam mempesona dibawahnku, garis dan lekukan yang ditimbulkan alam, kawah dan rerumputan yang menghijau membuatku semakin kagum, hamparan ngarai dibawahku mengingatkanku akan suatu penantian, penantian yang panjang…dan siapakah yang kutunggu disini.? Dalam cerita pencinta sering kubaca penantian terpanjang seperti ini akan menghasilkan kebahagiaan, namun penantianku untuk siapa? Dan akan bahagiakah aku..? aku hanya menarik nafas mencoba menghilangkan kegalauan hati oleh suasana romantis yang tercipta dengan sendirnya… Rabb…….menunggukah aku..?

Rasanya aku ingin berlama lama disana, namun Bejo kembali memaksa rombongan untuk turun, akupun melangkah dengan enggan, kembali turun dan menuju kearah lautan padang pasir, aku melirik arloji. Jam 08: 00 pagi. Pemandangan Indah kembali menghiasi mata sepanjang jalan lautan pasir tersebut, kamerakupun tak henti hentinya memercikkan cahaya dari bliznya, dan sayangnya….begitu sampai dilautan pasir …bateraynya pun habis…duh…kenapa haru ada gangguan ini?

Kami sudah dinanti puluhan kuda sewaaan, menuju ke puncak yang sangat jauh memang sangat asyik kalau dengan menunggang kuda, akupun memilih salah satu, walaupun sebenarnya tidak tega dengan pemilik kuda yang berjalan didepanku aku menikmati pemandangan, aku meminta laki laki itu berjalan pelan pelan saja dengan harapan ia tidak akan susah mengikutiku. Pemandangan didepan mataku tidak kalah indahnya, padang pasar yang sangat luas dibentengi dengan Gunung Semeru, gunung Bromo menjadikannya mempunyai tepian nyata. Kamu menuju ke puncak, namun sampai dikaki Gunung Kuda tak sanggup berjalan. Akhirnya aku menaiki tangga.

Dengan tersengal sengal aku mencoba menghitung jumlah anak tangga yang kunaiki, kalau tidak salah jumlahnya 258, namun kata teman teman yang lain jumlahnya lebih banyak dan hamper dari semua kami menghitung dengan jumlah yang berbeda. Dipuncak Semeru yang Indah pemamdangan tidak kalah cantiknya…aku lagi lagi terpana. Rabb..cantiknya..ciptaanMU..

Kembali Nuansa Romantis menggoda hatiku, dengan santai aku duduk disalah satu bebatuan yang ada, pandangan kearah lautan pasir dengan ratusan penunggang kuda yang menunggu para turis, aku merasa menjadi salah seorang putri yang sedang menunggu pangeran berkuda…dan yang manakah diantara kesatria itu pangeranku..?



Hmm he he , dengan tersenyum malu dan tersipu sipu aku mengusir bayangan dan scenario cerita itu, tapi alam yang indah dan suasana pagi yang segar entah apa namanya membuat hawa romantis tak dapat kueelakkan, dan bagaikan seorang penyair, tiba tiba aku ingin membuat sejuta puisi, sejuta cerita, aku juga ingin melukis…. Tapi tentu saja hanya hayalan, karena aku bukan penyair dan bukan pelukis.

Tiba tiba sesosok wajah muncul dalam anganku, dengan senyumnya yang begitu menarik dan memikat hati. Duh…… kenapa wajah itu harus muncul? Kenapa harus dia? Aku tidak pernah melihatnya berkuda..apalagi sampai menjadi kesatria. Tapi bukankah ini daerahnya juga…. Ah konyol.

Lagi lagi Bejo mengganggu keasyikan jiwa penyairku yang sudah mulai gila, Bejo meminta kami turun dengan segera karena harus mengejar penerbangan sore harinya di Surabaya. Lagi lagi dengan enggan aku turun, tangga terasa sangat sedikit, dan aku kembali menaiki kudaku menuju bus kami menunggu

Namun hatiku terobati ketika aku melewati Pura yang berada di lautan pasir ini, walaupun tidak bisa memasukinya namu keberadaan pura sangat cantik kalau dilihat dari puncak gunung, aku mengelilingi Pura dan setelah itu kembali ke rombongan.

Ah Bromo..kau sudah membuat aku mabuk kebayang pagi ini, keindahanmu dan kemolekanmu menimbulkan kerinduan dalam hatiku…dan di Bromo ini aku menunggu……

Bromo 21 Agustus 2008



Design by Amanda @ Blogger Buster