Dishut: 3.730 hektar Lahan PT Raka Non Presdural
-
Dinas kehutanan kampar menyatakan bahwa 3.730 hektar lahan yang dikelola
oleh PT Raka kecamatan Tapung Hulu Kampar adalah non presedural, dalam
artian ti...
Membaca.. hobby yang mengaduk-aduk perasaan
-
Membaca sebagai hobby utama bagiku saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan,
bukan hanya sebagai pengisi waktu luang namun menjadi suatu hal yang wajib
y...
Pilih Anak lelaki atau Anak Perempuan???
-
‘’Iyaa... Mama Angga, anak gadisnya pak Sofyan itu lho...yang masih kelas
satu SMP itu ‘’ ujar salah satu perempuan pada temannya, sambil berceloteh
rian...
OCU.... SEBUAH PERKENALAN
-
Pernah dengar kata Ocu? Mungkin bagi anda yang berasal dari Provinsi Riau
kata ini sudah akrab ditelinga anda. Atau bagi anda yang berasal dari
provins...
Keletihan dan panas yang menyengat selama di Kota Subaraya ternyata sangat berbalik dengan hawa yang menyambut kami di Kota Malang, kami memasuki kota tersebut saat Isya datang dan hawa dingin langsung menusuk kulitku, jaket yang kubeli di Suarabaya ternyata tidak mampu menahan dinginnya. Sampai di Surabaya kami lansung menuju ke Kota Batu tempat penginapan, sempat tawar menawar dengan pengemudi taksi kami menuju ke hotel.
Dingin malah semakin bertambah dan badanku sudah mulai meriang, aku sempat bingung, mau mandi apa tidak ya? Kalau mandi airnya sangat dingin karena penginapan tidak menyediakanair panas , namun kalau tidak mandi badannya rasanya lengket semua karena berkeliling seharian di Surabaya, akhirnya dengan nekat aku mandi juga….dan ternyata aku memang demam.
Aku mencoba unuk tidur setelah minum obat sebelumnya, jam 12 malam aku dibangunkan teman teman, rombongan akan menuju ke Gunung Bromo,aduh…. Badan rasanya sakit semua dan udara dingin di kotaBatu membuat kaki dan tanganku terasa sangat kaku. Namun imformasi mengenai Bromo yang kudengar selama ini sangat menarik hati dan aku sangat ingin kesana, akhirnya dalam kondisi demam aku bangun dan bersiap untuk ke Bromo. Kapan lagi? Tekadku dalam hati memberikan semangat
Bus melaju membawa kami ke Probolinggo, selama perjalanan aku mencoba untuk tidur, penjelasan dari Guide kami yang sebenarnya bernama Anang namun mempunyai panggilan Bejo tidak begitu kusimak, sakit kepala dan flu yang menyerangkau sepertinya tidak mau kompromi. Jam 2pagi kami sampai di desa Tengger di bawah kaki puncak Bromo. Bejo mengajak rombongan untuk istirahat di salah satu warung makanan yang berjejer di sepanjang jalan jalur utara ini, hamper semua wisatawan yang ingin jalur praktis melewati jalur ini.
Bejo memesan segelas wedang jahe untukku, ia juga meminta agar pemilik warung meyediakan tunggku bara untuk kami dan alhamdulillah..akhirnya aku dapat menghangatkan diri. Bejo juga menyarankan agar aku menyewa jaket tebal yang ditawarkan penyewa jaket, dengan membayar 10 ribu aku mendapatkan jaket tebal dan kulengkapi dengan topi gazebo bergambar bromo, akhirnya tubuhku mulai enakkan. Thanks Bejo
Selama di Warung itu Bejo bercerita, menurutnya banyak jalur yang bisa dilewati dengan melalui jalur cagar alam Tengger, namun ini biasanya digunakan oleh para pendaki danmereka yang suka bertualang, ada juga jalur melalui lautan pasir di didesa Tosari, namun jalurnya cukup berat juga.
Bejo juga bercerita menurutnya di sekitar Gunung Bromo berdiam masyarakat suku Tengger, dan bagi mereka Gunung Bromo adalah Gunung yang suco sehingga setahun sekali masyarakat suku Tengger ini melakukan upacara dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo, di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Dalam upacara masyarakat melemparkan berkah, uang atau makanan ke kawah gunung dan sebagian masyarakat yang lain mengambilnya.
Masyarakat suku Tengger juga tidak pernah khawatir dengan ancaman meletusnya gunung Bromo ini, bagi mereka Gunung Bromo adalah kehidupan mereka. Aku merenung.. kecintaan manusia pada tempat dan tanah kelahirannya memang sangat kuat dan aku juga begitu. Kampar bagiku adalah hidup dan matiku.
Sekitar jam 4 subuh kami menuju ke puncak gunung, perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit saja cukup menanjak dan sampai di puncak Bromo aku melongo wow…..indah sekali.dalam kegelapan, puluhan orang tegak dan duduk menunggu terbitnnya matahari, mereka memakai jaket tebal dan terdiri dari berbagai bangsa.
Sementara itu disisi kanan, aku melihat Gunung Semeru dengan asapnya yang mengepul, kawah Gunung Bromo…dan lautan pasir, asap tebal dari kawah gunung menggambarkan siluet raksasa yang seakan akan mencari mangsa dalam kerumunan manusia di Bromo, perlahan lahan cahaya jingga pengantar matahari muncul.
Aku menoba merenungi dalam keindahan Ciptaan yang Maha Kuasa ini, sungguh luar biasa ya Rabb….dalam ancaman letusan Bromo Kau ciptakan lukisan yang begitu Indah. Perlahan lahan matahari yang cantik muncul dan ini sungguh detik detik yang mengangumkan. Satu persatu juga wajah wajah terpesona mulai tampak disiram cahaya pagi.Usai menatam mentari yang sudah mulai sempurna aku menikmati pemamdangan kearah kawah Gunung dan Lautan pasir, tak kalah Indahnya.
Aku berdiri ditepian Tebing dan memandang alam mempesona dibawahnku, garis dan lekukan yang ditimbulkan alam, kawah dan rerumputan yang menghijau membuatku semakin kagum, hamparan ngarai dibawahku mengingatkanku akan suatu penantian, penantian yang panjang…dan siapakah yang kutunggu disini.? Dalam cerita pencinta sering kubaca penantian terpanjang seperti ini akan menghasilkan kebahagiaan, namun penantianku untuk siapa? Dan akan bahagiakah aku..? aku hanya menarik nafas mencoba menghilangkan kegalauan hati oleh suasana romantis yang tercipta dengan sendirnya… Rabb…….menunggukah aku..?
Rasanya aku ingin berlama lama disana, namun Bejo kembali memaksa rombongan untuk turun, akupun melangkah dengan enggan, kembali turun dan menuju kearah lautan padang pasir, aku melirik arloji. Jam 08: 00 pagi. Pemandangan Indah kembali menghiasi mata sepanjang jalan lautan pasir tersebut, kamerakupuntak henti hentinya memercikkan cahaya dari bliznya, dan sayangnya….begitu sampai dilautan pasir …bateraynya pun habis…duh…kenapa haru ada gangguan ini?
Kami sudah dinanti puluhan kuda sewaaan, menuju ke puncak yang sangat jauh memang sangat asyik kalau dengan menunggang kuda, akupun memilih salah satu, walaupun sebenarnya tidak tega dengan pemilik kuda yang berjalan didepanku aku menikmati pemandangan, aku meminta laki laki itu berjalan pelan pelan saja dengan harapan ia tidak akan susah mengikutiku. Pemandangan didepan mataku tidak kalah indahnya, padang pasar yang sangat luas dibentengi dengan Gunung Semeru, gunung Bromo menjadikannya mempunyai tepian nyata. Kamu menuju ke puncak, namun sampai dikaki Gunung Kuda tak sanggup berjalan. Akhirnya aku menaiki tangga.
Dengan tersengal sengal aku mencoba menghitung jumlah anak tangga yang kunaiki, kalau tidak salah jumlahnya 258, namun kata teman teman yang lain jumlahnya lebih banyak dan hamper dari semua kami menghitung dengan jumlah yang berbeda. Dipuncak Semeru yang Indah pemamdangan tidak kalah cantiknya…aku lagi lagi terpana. Rabb..cantiknya..ciptaanMU..
Kembali Nuansa Romantismenggoda hatiku, dengan santai aku duduk disalah satu bebatuan yang ada, pandangan kearah lautan pasir dengan ratusan penunggang kuda yang menunggu para turis, aku merasa menjadi salah seorang putri yang sedang menunggu pangeran berkuda…dan yang manakah diantara kesatria itupangeranku..?
Hmm he he , dengan tersenyum malu dan tersipu sipu aku mengusir bayangan dan scenario cerita itu, tapi alam yang indah dan suasana pagi yangsegarentah apa namanya membuat hawa romantis tak dapat kueelakkan, dan bagaikan seorang penyair, tiba tiba aku ingin membuat sejuta puisi, sejuta cerita, aku juga ingin melukis…. Tapi tentu saja hanya hayalan, karena aku bukan penyair dan bukan pelukis.
Tiba tiba sesosok wajah muncul dalam anganku, dengan senyumnya yang begitu menarik dan memikat hati. Duh…… kenapa wajah itu harus muncul? Kenapa harus dia? Aku tidak pernah melihatnya berkuda..apalagi sampai menjadi kesatria.Tapi bukankah ini daerahnya juga…. Ah konyol.
Lagi lagi Bejo mengganggu keasyikan jiwa penyairku yang sudah mulai gila, Bejo meminta kami turun dengan segera karena harus mengejar penerbangan sore harinya di Surabaya. Lagi lagi dengan enggan aku turun, tangga terasa sangat sedikit, dan aku kembali menaiki kudaku menuju bus kami menunggu
Namun hatiku terobati ketika aku melewati Pura yang berada di lautan pasir ini, walaupun tidak bisa memasukinya namukeberadaan pura sangat cantik kalau dilihat dari puncak gunung, aku mengelilingi Pura dan setelah itu kembali ke rombongan.
Ah Bromo..kau sudah membuat aku mabuk kebayang pagi ini, keindahanmu dan kemolekanmu menimbulkan kerinduan dalam hatiku…dan di Bromo ini aku menunggu……
Hanyalah catatan seorang perempuan biasa yang ingin menggoreskan kehidupannya dalam uraian dan rangkaian kata, menggambarkan apa yang dilihat, menyampaikan apa yang didengar dan meluahkan apa yang dirasa. Karena pelangi tidak tercipta hanya satu warna dan sulaman tidak satu benang. kekelaman dan sinar kehidupan itulah bahagia dan deritanya....maka nikmatilah lambaian cinta bersama guratannya
Kuliah......Weekend Time
-
Weekend time sepertinya tidak berlaku laku bagi diriku...karena hari yang
biasanya digunakan untuk main-main ma Bintang..atau untuk malas-malasan
namun leb...
Duka Palestina merupakan duka dunia, darah dan airmata anak anak, wanita dan masyarakat Palestina mengalirkan duka pada dunia. Sayangnya tidak banyak yang bisa diperbuat. Simpatiku pada Palestina tak mampu kuuraikan, dalam www.rinahasan-duniaislam.com aku mencoba untuk menyiratkan kelukaanku atas lukanya Palestina
0 komentar: to “ Di Bromo Aku Menunggu….. ”
Poskan Komentar