Kembali ke Titik Nol
Minggu, 01 Februari 2009
Siang itu begitu keluar dari sebuah pertokoan seorang perempuan muda menghentikan langkahku, butuh waktu satu menit untuk bisa menghadirkan identitas perempuan itu, namun senyumannya dan suaranya yang khas dan cara memanggil namanku dengan cepat hadirkan satu nama, aku tersenyum (lebih tepatnya memaksa untuk tersenyum , sungguh pertemuan ini sangat mengejutkanku, walaupun aku juga tidak dapat memungkiri bahwa aku juga merindukannya..
Hai apa kabarmu? Ini anakmu? Ujarku menutupi kegugupanku, dengan menggendong bayi berumur kurang setahun sahabatku itu memelukku dengan erat, hangat sehangat persabatan yang kami miliki dulunya, aku membalasnya (lagi lagi dengan kaku), dia sahabatku….kami bersahabat sejak bangku SMP, dia mengajariku bagaimana membalas surat cinta dari cowok masa ABG dulu, aku menyayanginya seperti saudara sendiri dan begitu juga dirinya…..sayangnya hidup memisahkan kami setidaknya sepuluh tahun ini…
‘’kamu cantik sekali, ‘’ ujarku menghilangkan debar jantungku, debar kebahagiaankah ini atau debar ketakutan..aku mencoba mengabaikannya. Dia tersenyum…masih begitu, sejak dulu kalau aku memberikan komentar penampilannya..
‘’aku tadi melihatmu..awalnya aku tidak yakin..namun abang (ia menyebut suaminya) menyakinkan itu kamu..makanya aku turun.. ‘’ujarnya lagi, Aku tercekat..jadi dia dating dengan suaminya? Oh Tuhan suasana begini yang sangat ingin kuhindari….duh aku turun limabelas poin..
‘’Dia ada dalam minimarket itu.. dengan anak anak‘’jelasnya saat ku mencoba mencari sosok yang disebutnya abang itu, aku mengangguk, dulu..aku pernah marah padanya ketika ia memutuskan untuk menikah disaat kami masih berada di bangku kuliah, tentu saja aku marah karena aku yang mati matian untuk mendorongya kuliah, kami berbagi apa saja, buku, pakaian, bahkan uang SPP, aku sangat ingin melihatnya menjadi sarjana…namun akhirnya aku juga yang kuat membantunya meyakinkan keluarga agar menyetujuinya…
‘’aku tahu ini sulit..tapi bukankah kamu juga yang mengajarkanku untuk mengejar cinta kita? Bukankah menurutmu hidup dengan orang yang kita cintai adalah impian yang tertinggi kita? Saat itu aku hanya mengangguk dan bertekad mewujudkan impiannya..dan sekarang terbukti pilihannyalah yang benar..dan impiannya terwujud..sementara aku..?
Tak lama kemudian…..seorang lelaki muda dengan empat bocah keluar dari took dibelakangku…satu persatu mereka menyalamiku…..dan suaminya dengan senyum yang ramah menyapaku….duh.Gusti…bukankah dulu aku berdebat denganya dengan mengatakan ‘suatu saat aku akan punya anak banyak..setidaknya
Kenapa ? bukankah akan menimbulkan biaya besar ..? tanyanya gusar, pengalaman mempunyai banyak saudara membuat kami memahami kesulitan hidup dalam usia masih muda.
‘’kenapa harus takut biaya? Bukankah setiap anak ada rezekinya.. jawabku santai..
‘’merawatnya bagaimana? Sekolahnya pake apa..belum kalau mereka bertengkar?
‘’pake otaklah…kalau mereka bertengkar aku akan beli peluit.. jawabku lagi..dan sekarang….???
‘’ Kamu enak ya..sudah menjadi wanita karier…sementara aku hanya menjadi Ibu rumah tangga, ‘’ dia tertawa…lalu dia bercerita tentang bagaimana sibuknya merawat
Karena tak kuat untuk menahan kesakitan yang menghantamku terus menerus aku akhirnya memberikan alasan untuk pamit, ia tersenyum lagi dan menawarkan untuk mengantarkanku. ‘’tapi maklumi ya..hanya mobil sederhana ini, takutnya kamu gengsi.. ‘’ ujarnya
Duh.aku kembali terhenyak..mobil sederhana? Aku malah tidak punya mobil samasekali, aku juga tidak punya rumah yang sudah dia miliki…..aku harus bicara apa sekarang? Padahal dulunya..aku yang selalu berbagi padanya? Aku kembali jatuh..hampir 20 point
Dan sebelum ia masuk kemobilnya ia memelukku lagi..sangat hangat, aku membalasnya kali ini dengan sepenuh hatinya….dulu..aku selalu memeluknya sehangat ini, menghentikan tangis dukany..memjanjikan perlindungan baginya..dan sekarang..????
Duhai..sahabat..tahukah engkau..aku sangat ingin memelukmu sangat erat lalu menumpahkan tangisku disitu, berharap akan ada penghiburan untukku..tapi bisakah….itu dan tiba tiba saja aku menyadari… Aku ternyata sudah berada DITITIK NOL……
Kampar, 25 Januari 2009






23 Februari 2009 13:57
jawabannya adalah karena kita hanyalah manusia, yang bisa berencana dan berusaha.
sedang yang memutuskan, adalah
Dia yang maha kuasa!