Rabu, 17 Maret 2010

Ketika Balimau Kasai Digugat (Lagi....)

Harusnya Kita Sudah Tersadar

Ada hal yang menarik ketika pertemuan antara kantor Depag Kampar dengan Pemkab Kampar di Bangkinang Jumat (12/3) pekan lalu, dalam pertemyan ini Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Riau, Drs H Asyari Nur, SH, MM secara halus (namun mengenaaaa banget) memberikan kritik membangun tentang pelaksanaan acara budaya Balimau Kasai yang dinilainya beberapa tahun terakhir telah sedikit berubah dari tradisi balimau kasai sesungguhnya.


Menurut Ketua Tariqat Naqsabandy tersebut harusnya pihak-pihak berkompeten di Kabupaten Kampar seperti Pemdakab, ninik mamak, tokoh agama, generasi muda mengemas acara balimau kasai itu jadi acara budaya bernuansa agama. ‘’Kan, aneh, bila pemuka adat tepatnya ninik mamak dan aparatur pemerintah melihat anak keponakan mandi-mandi di Sungai Kampar. Menonton orang mandi itu bukan bagian dari budaya balimau kasai, ujar Asyari Nur sambil tersenyum.

Dulu....menurutnya pada awal acara balimau kasai yang diketahuinya saat salah satu muridnya datang kerumah guru ngaji untuk meminta maaf sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sedangkan seluruh lapisan masyarakat secara sadar dan ikhlas mendatangi orang-orang tua di kampung, para tokoh agama dan tokoh adat untuk saling bermaaf-maafan dengan diiringi rasa kekeluargaan yang mendalam, kebersamaan yang hakiki yang diperlambang dalam bentuk makan bajambau.


’’ Jadi mengapa kedepan tradisi Balimau Kasai tidak dikemas dalam nuansa agama seperti menggelar acara khattam Al-Qur’an, pemberian santunan untuk anak yatim, pemberian bantuan untuk orang-orang miskin, bantuan untuk anak-anak berprestasi dibidang pendidikan atau pun pemberian penghargaan bagi pemuka agama dan tokoh masyarakat yang pantas diberi penghargaan atau memberikan modal usaha bagi keluarga miskin dan kegiatan gotong royong pembersihan tempat-tempat ibadah dan lembaga pendidikan agama serta melaksanakan acara hiburan bernuansa tradisi dan sekaligus bernuansa agama ’’ usulnya


Kritikan yang disampaikan Kakanwil Depag ini sebenarnya bukan kritikan yang pertama tentang kegiatan Balimau Kasai, banyak pihak yang sudah mencoba mengingatkan tentang betapa Jauhnya tradisi budaya itu bergeser bahkan sudah tidak bisa disamakan antara balimau kasai dulu dan sekarang.

Tapi sayangnya gugatan demi gugatan bahkan yang disampaikan ulama sekalipun sepertinya tidak mampu membangun Pemkab atau masyarakat yang sudah tertidur dibuai dengan istilah event budaya (entah budaya mana itu…) Balimau kasai saat ini adalah kegiatan seremonial kedatangan pejabat baik tingkat propinsi atau kampar, lalu ada lomba sampan hias dan acara inti…mandi mandi..berbaur lelaki perempuan didepan Mamaknya, bersama ughang somondo, hilang sudah malu…….


Yang mengherankan ini malah digadang-gadangkan, walaupun sudah dibungkus dengan aneka lomba seperti lomba azan, rebana dan sebagainya namun kegiatan mandi bareng tetap acara utama..dan dikatakanlah ‘’ kegiatan pariwisata kampar ‘’ .

Pernyataan ini yang membuat saya heran..pariwisata dari mana? Wong ndak ada turisnya, jangankan turis luarnegeri..luar Kabupaten Kampar juga tak ada, kalaupun ada yang datang dari Pekanbaru ..itu ughang Kampar Juga. Lebay…..

Dan yang lebih heran lagi, dalam diskusi saya denga salah satu staff dinas pariwisata Kampar malah merencanakan akan memajukan pelaksanaanya dua atau tiga hari sebelum ramadhan, dengan alasan agar tidak menganggu sholat tarawih pada malam pertama ramadhan karena seremonial dengan pejabat cukup lama dan menyita waktu dan dengan lapangnya hari maka akan banyak kesenian yang bisa ditampilkan.

Walaupun alasannya kedengaran logis namun menurut saya preeeettttt….nggak mutu. Lha iya lah, balimau kasai itu bukanlah acara seremonial dan bukan untuk tari-tarian, namun esensialnya adalah pembersihan diri seperti minta maaf kepada orang tua dan saudara-mara, mengunjungi orang tua dan sanak yang laim. Lagipula siapa suruh melaksanakans eremonialnya petang hari..wong zaman dahulunya kegiatan dimulai pagi hari dimana para Ninik mamak dikenegerian naik ke balai adat dan saling berunding untuk kegiatan pembangunan setahun berikutnya…..lalu sekitar usai dhuha mereka pulang saling bersilaturahmi dan ba’da asyar mandi membersihkan diri ditepian masing masing….


Lalu darimana datangnya pacu sampan hias yang habisnya uang daerah berjuta-juta bahkan ratusan juta, darimana datangnya acar seremonial dan darimana datangnya mandi bareng? ……hmmmm jalan dianjak orang yang..ontahlah…


Banyak pihak sudah mengingatkan namun sayangnya yang tidur ini sangat lelap bahkan munkin ngorok sehingga tidak terdengar orang yang menjagakan, entahlah kalau dengan kritikan dari kakanwil depag ini..karena saat itu wajah wajah pejabat yang hadir cukup memerah..semoga ya Pak…….



Kampar 17 maret 2010

-Ummu Bintang-

2 komentar:

readhermind-dy mengatakan...

budaya sering melenceng

rinahasan mengatakan...

Benar Sis ..sesuai dengan perkembangan zama, hanya saja kita perlu mempertahankan nilai-nilai baiknya sehingga budaya tidak akan menjadi sesuatu yang asing. Terimakasih diskusinya..

Design by Amanda @ Blogger Buster