Tempat Umum= Free Etika?
Selasa, 22 Februari 2011

(plisss…hargai kita dunk…., kita juga bayar)
Kejadian ini sudah cukup lama…sekitar dua atau tiga bulan yang lalu namun sampai saat ini masih membekas dihati dan fikiran saya, saat itu saya bersama teman-teman sedang mengetik
berita di warnet langganan kami di Bangkinang, saat asyik dengan kesibukan masing-masing tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki masuk, sebenarnya ini hal biasa karena dalam warnet siapa saja boleh datang, dan suara lelaki ini sepertinta membutuhkan sebuah room untuk berinternet dan mencari temannya yang munkin sudah lebih duluan datang.
Namun yang tidak biasa adalah nada bicaranya yang keras sekali, memanggil-
manggil temannya sambil berteriak, ketika temannya menyahut dari salah satu room lelaki ini terdengar senang lalu ia mencarut (dalam bahasa Kampar menyebut organ intim wanita), temannya menyahut riang juga, lalu terdengarlah dialog yang sangat tidak menyenangkan karena perkataan carut marut tersebut diucapkan mereka begitu sering akhirnya telinga ini menjadi panas juga..sungguh tidak nyaman.
Saya juga mendengar langkah kaki mendatangi saya dengan bergegas, sayapun
berdiri dan didepan room saya berdiri seorang anak muda, hmm cukup tampan, mukanya menunjukkan umur sekitar 27 hingga 30 tahunan, rambutnya cepak persis potongan rambut polisi atau ABRI dan seingat saya (mudah-mudahan salah) saya memang pernah melihatnya memakai pakaian seragam polisi.
usan saya ‘’ujarnya kasar

‘’iya..tapi kami disini juga mendegar..dan ndak enak masak bicara begitu di sini ‘’ujar saya mencoba menerangkan
‘’suka suka saya dunk..ini mulut saya, dan ini tempat umum..siapa saja boleh bicara disini ‘’ujarnya melotot.
‘’karena ini tempat umum kamu harus lebih sopan, kami juga punya telinga dan kami juga tamu disini ‘’ujar saya tak kalah emosi, dia menegakkan pinggangnya dan menantang
‘’hei memangnya kamu siapa? Ibu saya saja tidak melarang..’’ujarnya
Saya sangat ingin berkata ibunya sama brengseknya..untung akal sehat saya melarang, dengan cepat hati saya berkata ;’’sabar rin..orang waras ngalah… ‘
‘’terserah kamu..mencarutlah sepuas hatimu kalau begitu..dasar tak sekolah ‘’ujar saya menutup pembicaraan dan saya duduk kembali, awalnya dia masih ngomel-ngomel dengan bahasa yang tak ingin saya tulis disini.
Hmmm…saya sendiri sampai hari ini masih benar benar prihatin, kenapa ya banyak sekali orang menganggap tempat umum tempat dimana mereka bisa berbuat apa saja, karena mereka memang bayar disitu, ini bukan yang pertama sebenarnya saya alami, sering saya diwarnet mendengarkan anak SMP yang bermain computer disitu mencari sambil bergurau, padahal mereka masih kecil lho..dan itu menjadi semacam ulam (kalau makanan lalapan) dalam pembicaraan.
Itu hanyalah rumah dimana kita memilikinyta secara pribadi,dalam rumah saja kita harus hormati orang tua, saudara-saudara yang lain yang sebenarnya dekat dan memahami kita, tentu saja ini juga berlaku untuk umum ‘’contohnya saja..kenapa kita tidak memakai piyama ke mall atau ke acara resmi..karena kita menghormati tempat tersebut dan orang-orangnya ‘’ujar Beliau.
Kampar, 22 februari 2011
Rina Ummu Bintang






0 komentar: to “ Tempat Umum= Free Etika? ”
Poskan Komentar