Kamis, 21 Maret 2013

Kebakaran Istana, yang (mem)terbakar Kita....





Membaca status BBM seorang teman adanya kebakaran di Istana negara, berhubung TV lagi rusak karena antenanya disambar petir maka saya membaca imformasinya melalui tweeter, FB saja.

Saya tercenung, bukan masalah tentang kebakarannya, tapi  bagai mana teman-teman di tweeter dan para fesbuker memandang masalah ini, hampir 98 persen memandang dari sudut negatif, ada yg nulis ini permainan intelejen, ada yg menganekdotkan karena bawang merah mahal maka perlu lahan tanam bawang dan bekas kebakaran bisa jadi lahan baru tanam bawang, ada yg stats ini konspirasi politik, ada juga yang menjadi lelucon century dan hambalang

Saya jadi mikir, kok dari semua aspek kok pemerintah dianggap ndak benar ya? 

Ada Korupsi di pemerintah dicaci itu wajar, ketika harga naik pemerintah dimarahi, itu  wajar, ada teroris pemerintah dihina itu wajar wajar, tapi ketika ada musibah mbok ya prihatinlah sikit. Untuk kasus century dan Hambalang pemerintah dihujat saya maklum, ketika kebakaran istana juga dihujat saya kok ndak ngerti ya?

Ketika harga bawang naik pemerintah dicaci maki saya paham, tapi ketika istana terbakar dicaci juga saya heran, Ketika ada korupsi pemerintah dikata-katain, ketika kebakaran istana masak dikatain juga
Memangnya istana bebas dari musibah? Emangnya istana lepas dari bencana, wong istana Zeus di olympus aja runtuh kok, padahal itu kabarnya istana yang dijaga Dewa-Dewi Abadi

Jadi kenapa kok pada sibuk beri statement sendiri,  ini begini,  ini begitu yang semuanya ke arah menyalahkan
Memang sih... ada yang kurang tepat dipemerintah,ada yg salah dipejabat-pejabat,  ada yg tak beres dipolitikus, tapi pasti tak seorangpun yang mau bencana ini terjadi,  termasuk SBY, Sudi Silalahi atau anda.

Sepertinya negara ini diiputi udara kecurigaan, atmosfir suka mengkritik dalam suasana apapun, negara dengan  aura negatif, negara tanpa empati
Bukankah lebih kita memandang musibah ini dgn lebih bijak? Jangan berfikir negatif dulu, toh kebakaran itu juga dariNya?

Munkin benar ini suatu peringatan, tapi peringatan mestinya dicermati bukan malah cari kambing hitam? Apatahpula  menyalahkan?
Munkin ini suatu teguran, bukankah teguraan harus ditanggapi dengan perbaikan? Bukannya meledek dan menghujat 
Munkin ini suatu kutukan, bukankah kutukan harus dicari penangkalnya bukan malah mencaci suatu pihak
Munkin ini suatu konspirasi, bukankah harus dipecahkan solusinya, ditemukan uek sial pangke cilako?

Bayangkan, rumah anda terbakar lalu ada yg menghujat, seandainyaa ada perampok terjahatpun anda akan sedih karenanya
Dulu guru saya di SD mengajarkan, Indonesia dikenal bangsa yangwelas asih, sayangnya sudah hilang,berganti bangsa caci maki 
Istana negara bukan rumah SBY, bukan juga rumah sesneg, tapi rumah kita semua, kita semua rakyat Indonesia, siapapun kita.

Kalau ini teguran, teguran untuk kita semua, harusnya kita intropeksi diri sendiri dulu
Kalau ini kemarahan, yang dimarahi adalah kita semua, harusnya semua kita menundukkan kepala dan merasa berdosa 
Kalau ini kutukan, kita semua harus menangkalnya, bukan hanya sby, sesneg, pejabat, politkus namun kita semua 
Kalau ini konspirasi, kitalah pelaku konspirasi, kita yang (mem) bakar daan kita yang (ter) bakar, jadi hanyaa kita yang bisa hentikan.

Jadi mengambil moment kebakaranistana istana ini untuk menghujat, mencaci, menghina artinya mencaci, menghujat dan menghina diri sendiri"
Kata almarhum ayah saya (Nurhasan) kalau menunjuk orang lain dengan satu jari, maka empat jari menunjuk diri sendiri.
Jadi ....kenapa tidak berikan rasa prihatin, rasa welas asih Indonesia, mari rubah dari diri, dari yg terkecil dan dari saat ini

Entah musibah,kutukan,bencana atau apapunlah namanya saya yakin bangsa Indonesia bisa menghadapinya, wong  tsunami besar aja dulu bisa
Semoga ini bisa menjadi renungan, bahwa kita dan bangsa ini perlu berbenah, hilangkah semua yg negatif  dan Semoga bangsa ini tetap bisa melangkah. Amin

Kamis, 07 Maret 2013

Ingin Tertawa, tapi......tertawa sudah dilarang belom????

Ingin rasanya tertawa melihat polah mereka, ndak bisa kok dipaksa-paksa..kesannya jadi lebaaay... Ingin tertawa melihat bicara mereka, sudah salah..kok dicarikan pembenaran..malah pake lobi dan pasukan lagi...weleh weleh Ingin tertawa..melihat nasib kebenaran yang selalu dipermainkan oleh sebuah kebohongan dan kemungkaran berjemaah... I...ngin tertawa....melihat semua kesucian sok suci yang menyelubungi sebuah kemunafikan. Tapi tertawa sudah dilarang belom ya? soalnya saya takut untuk tertawa. Takut nantinya dianggap mencemeeh, takut dianggap tidak loyal, takut dianggap tidak mendukung dan yang paling parah takut dianggap tidak waraas... Tertawa saja saat ini sudah menjadi susah, karena saat kita tertawa..banyak mikir yang bukan-bukan..apalagi mentertawakan kondisi yang ada saat ini, wah bisa bisa saya ditudu ma........(takut ah) padahal tawa itu menjadi obat yang mujarab saat ini, ditengah keprihatinan melihat kondisi carut marut ini, tertawa menjadi hiburan buat ketidakberdayaan merubah kondisi, tertawa menjadi sesuatu yang paling mudah dilakukan disaat kita tidak boleh ngapa=ngapain. Tapi sekali lagi...tertawa sudah dilarang belom?? Kampar 7 Mar 2013

Design by Amanda @ Blogger Buster