Kamis, 16 Juni 2016

Gara gara Sampah, Tak Enak Jadi Walikota.


Gara gara Sampah awal ramadhan ini walikota Pekanbaru Firdaus ST MT kembali dihujat warga, apa pula tidak, tumpukan sampah dimana mana, diparit, depan pertokoan hingga di jalanan.
Sampah bukan hanya menganggu
pemandangan dan penciuman, namun juga menganggu perasaan warga. Karena mereka tau ada milyaran dana untuk kebersihan kota namun hasilnya??? Mengecewakan.
Tak ayal lagi Firdauspun dihujat terutama di medsos, padahal Firdaus dah menyampakan akan ada kebijakan khusus untuk itu.

Soal bully membully ini sebenarnya bukan yang pertama, saat hujan mengguyur Pekanbaru dan menimbulkan banjir beberapa bulan yang lalu, Firdaus MT juga dihujat habis habisan, hingga Pekanbaru bukan lagi kota bertuah, tapi kota berkuah.
Menjadi pemimpin wilayah apalagi disebuah kota memang rentan protes, bukan hanya walikota gubernur sekelas Ahok saja apabila Jakarta banjir juga dihujat habis habisa, bahkan presiden Jokowi juga dihujat, ketika harga sapi melambung tinggi.

Ah ternyata tak enak ya jadi walikota, gubernur bahkan presiden, karena dikit dikit kesalahan ditumpahkan ke mereka dan selalu dikambing hitamkan kalau terjadi masalah di masyarakat.
Tapi tunggu dulu, seingat saya ada satu bupati yang tak dibully warganya, walaupun gara gara kebijakannya harga bawang naik, masyarakat miskin, semua menjerit, dia adalah bupati.... Ah ndak usahlah, ntar masalah pula, hehehe

Kembali ke Pekanbaru, dulu saya agak kesal saat walikota dibully soal banjir, karena menurut saya banjir itu mah musibah, jadi dan 100 persen kesalahan Firdaus, 40 persen disebabkan faktor alam, sisanya salahnya pemerintah, heheh.

Namun kalau sampah, sorry Ocu Pidau, saya harus ikut ikutan bully Ocu juga. Karena ini hanyalah masalah ketegasan, masalah ocu mengawasi mereka yang bekerja dan masalah loyalitas orang orang yang Ocu pakai. Namun akibatnya mata dan hidung kami sakit gara gara sampah.
Sampah itu sebenarnya masalah kecil kalau kebijakan yang walikota sampaikan itu diserap dan dipahami oleh bawahan yang ditunjuk, sampah juga bukan masalah kalau ditunjuk pengelola yang serius dan profesional.


Namun sampah menjadi masalah ketika apa yang dimau oleh walikota tak dipahami kadisnya, atau kadisnya tak peduli. Yang penting saat laporan semuanya bagus. Dan lebih bermasalah lagi ketika pihak ketiga yang ditunjuk mengelola sampah bukan orang orang yang tepat, namun lebih karena faktor X, maka bajodalah kita.
Memang yang menentukan soal sampah Pekanbaru hari ini adalah sang walikota. Tegas menindak kadis yang membleo, tegas menindak rekanan yang asal asalan. Bahkan kalau perlu Pak Pidau tegak dekat truk sampah tu, jangan pulang sebelum bersih.

Memang tak enak ya jadi walikota, tapi ini adalah sebuah tanggung jawab.
Saya pernah nonton film yang dalam naratornya disebutkan ; dalam kekuatan yang besar pasti diiringi oleh tanggung jawab yang besar.
Jadi walikota bukan hanya soal jabatan tapi juga soal tanggung jawab dan soalan sampah salah satunya. Kalau tak...siap siaplah dihujat masyarakat.
Kecuali mungkin kalau pak walikota pindah jadi bupati kabupaten sebelah, takkan ada yang berani protes. "Ups




Kampar
Ramadhan - 09062016

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster