Selasa, 07 Juni 2016

Kasus Suparman, Pembelajaran bagi Riau



Ditahannya Bupati Rokan Hulu Suparman oleh KPK, selasa (7/6/16) kemarin menambah preseden buruk bagi Riau, karena menambah jajaran daftar pejabat Riau yang menjadi tawanan KPK, apalagi mereka berdua mantan ketua DPRD Riau, Johar Firdaus dan Suparman. Maka lengkaplah sudah setelah tiga gubernur ditambah dua ketua DPRD. Eksekutif dan legislatif, kompak ditangkap karena korupsi. Hebat!

Dan kasus ini menjadi lebih menarik, karena Suparman mantan Ketua DPRD ini adalah Bupati terpilih Rokan hulu yang dilantik pada 19 April yang lalu. Belum dua bulan menikmati nikmatnya jadi Bupati sudah harus pindah kantor ke Rutan Guntur Jakarta. Padahal butuh biaya yang tak sedikit untuk menjadi pemenang sebagai bupati. Jangankan untung balik modal aja belom.

Ah negeri ini seperti menikmati panggung drama kacangan yang membuat penonton menjadi eneg. Betapa tidak, mereka yang digadang gadangkan memelihara dan mengurus rakyat ternyata tidak lebih dari seorang "diduga" koruptor alias maling.

 

Sekarang di Kampar dan Pekanbaru drama itu baru dimulai, layar baru dibuka, dan cerita belum sampai ke pertengahan. Pilkada Kampar baru dimulai dengan menampilkan sosok sosok yang tidak semuanya bersih.
Inilah yang harus disikapi bijak, agar jangan menambah daftar nama nama putra Riau uang mengisi absen di rutannya KPK.

Pembelajaran ini, pertama untuk partai politik. Karena seleksi awal diberikan parpol sebagai tiket untuk masuk ke gelangang. Karena kalau mereka memberikan tiket pada calon yang salah maka fatal akibatnya. Katena ditangkapnya Suparman bukan hanya memalukan Rohul dan Riau, namun juga memalukan partai Golkar. Karena inilah kader yang mereka gadang gadangkan. Belajar dari kasus Sapi yang membuat turunnya kepercayaan masyarakat pada PKS, maka bisa jadi kasus Suparman ini bisa membuat merosotnyakepercayaan rakyat pada pileg 2019 nanti.

Kedua pembelajaran pada tim sukses, agar jangan memperjuangkan orang yang salah, yang tak bisa berikan balasan untuk bayar semua letih, lelah dalam perjuangan merebut suara. Ibarat orang usai pesta pernikahan, inai dikuku saja belum habis namun pasangan pengantin sudah berpisah. Kalau begitu "sakitnya tuh bukan lagi disini tapi dimana mana "

Dan yang ketiga, pembelajaran bagi rakyat, yang memberikan suara. Bijak dan cermatlah sebelum menjatuhkan pilihan, jangan hanya karena lembaran seratus apa dua ratus ribu lalu semuanya ditelan saja, akibatnya jangankan memikirkan rakyat memikirkan diri saja mengurusi kasus di KPK takkan bisa. Pilihlah yang cerdas jangan karena ketakutan.

Menyimak para calon calon yang ada saat ini, sebagian dari mereka berpotensi untuk jadi santri di Rutan KPK, apalagi bagi mereka yang sudah bertukus lumus dengan dana APBD sebelum ini. Maka mereka sangat rawan yang namanya korupsi. Maka waspadalah. Ingat: Cerdas menentukan sikp agar jangan ada Suparman yang selanjutnya.


Kampar
Ramadhan - 08062016


#‎pilkadakampar‬ ‪#‎pilkada‬ ‪#‎catatanpilkada‬ ‪#‎suparman‬ ‪#‎kpk‬ ‪#‎golkar‬ ‪#‎golkarriau‬ ‪#‎korupsi‬

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster