Jumat, 28 Oktober 2016

Dulang Kaki Tigo

 

Dalam pencabutan nomor urut kemarin, ada hal yang menarik perhatian saya. Yaitu " "Dulang kaki tigo" tempat nomor urut diletakkan. Dan sebagai orang Kampar saya sangat senang melihat itu. Walau mungkin saat itu sedikit yang memperhatikan kehadirannya.

Saya memang tidak tanya KPU kenapa mereka menggunakan Dulang kaki Tigo, namun saya fikir saya sudah punya jawaban sendiri, dan bisa saja jawaban kami ini sama.

Dulang kaki tigo. Tigo tungku sajorangan dan tali tigo sapilin adalah ungkapan yang familiar dalam istilah adat Kampar. Melambangkan kesatuan tiga elemen dalam kehidupan masyarakat, yaitu Ulama, Pemangku Adat dan Pemerintah.

Tiga elemen ini adalah tonggak yang mesti saling menguatkan satu sama lain. Jika satu kaki dulang (baki ) ini patah atau lemah, maka dulang ini akan goyah dan tak bangkit.

Dulang kaki tigo di acara KPU Kampar  kemarin, bertugas menjadi tempat nomor nomor urut para calon, itu sudah pasti. Namun dibalik itu ada makna yang ingin ditegaskan KPUD kampar, bahwa pemimpin Kampar ke depan harus bisa menjaga keserasian ini. Keserasian dan keseimbangan antara para Ulama, Pemangku adat dan Pemimpin daerah,

 Sekali lagi, saya tidak wawancara dengan KPU soal ini. Namun jika saya KPU Kampar Saya juga akan lakukan hal yang sama.
Karena saya menilai, keserasian ini sudah hilang di Kampar, tiga elemen ini jalan sendiri sendiri, hingga masyarakat bak anak yang bingung melihat orang tuanya berpisah dan ambil jalannya masing masing.

Sudah pengetahuan umum masyarakat, bahwa Kampar serambi Mekkah sudah kehilangan maknanya.  Markaz Islamy dengan mesjid Al ihsan yang megah hanya tinggal kusuong (casing) kosong tak bertuan. Bahkan jauh kalah dari Mesjid Raya Rohul yang dirindukan jutaan umat Islam di Sumatra. Islamic centre Kampar? Jangankan dirindu, dilirikpun tidak.
Memang makna perkembangan agama bukan sekedar soal masjid, namun setidaknya ia halaman mula buat membacanya. Mungkin lain kali kita bahas panjang.

Kedua, sudah jadi pembicaraan umum juga, perseteruan pemerintah (Bupati) dengan Ninik Mamak. Kelahiran LSM Dubalang Kampar, walaupun hanyalah katanya organisasi biasa, namun membuat hati Ninik Mamak terluka.
Ditambah lagi kisruh dalam tubuh Lembaga Adat Kampar (LAK) yang terkesan dipasung, misal adanya PLT LAK, menunjukkan bahwa kaki disisi adat sudah goyah. Mungkin lain kali kita akan bahas juga.

Sekarang tinggal satu kaki lagi, pemerintah. Saya tidak mau komentlah, namun yang jelas bukan rahasia lagi bahwa Kampar tengah bersusah hati. Saya takkan bahas ini lebih panjang...tuan tuan dan puan sekalian lebih tahu hehehe.

Satu saja dari tiga kaki ini goyah maka Dulang tidak akan kokoh. Apalagi saat ini tiga tiganya goyah bahkan dua sudah diambang patah. Jadi harapan apa lagi yang kita punya? Ala BAJODA negeri ko.

Inilah makna menurut saya keberadaan Dulang Kaki tigo dalam acara KPUD kemarin, mengingatkan para pasangan calon, agar siapapun ang menang, mereka harus menguatkan kembali kaki-kaki itu.

Saya tidak tau apa itu maksud KPUD Kampar., tapi saya sangat yakin, itu adalah harapan KPUD Kampar, sama seperti harapan saya dan harapan seluruh masyarakat Kampar.

#pilkadakampar
#catatanpilkadardh
#catatanrdh
#dulangkakitigo #adatkampar

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster