Jumat, 14 Oktober 2016

Untuk Ahok Memamg Sepantasnya


Sebenarnya sudah lama saya ingin koment sikit soal Ahok ini, karena si Koko memang buat greget. Namun sebisanya saya menahan diri. Karena berkomentar soal Ahok memang sikit unik. Salah-salah kita menulis akan menimbulkan penafsiran yang berbeda. Padahal hanya saya yang bisa mengerti tafsirannya hehehehe.

Alasan perbedaan inilah yang buat saya tak koment dulu, karena selama ini saya mencoba menghargai yang namanya perbedaan, dan menjadi sosok yang toleransi. Apalagi saya menikmati hidup dengan mereka yang berbeda dengan saya.

Tapi kali ini beda dan saya mau koment sikitlah.

Pertama, Aksi  pro- kontra dan  bully Ahok memang sudah jalan berbulan-bulan bertahun malah. Dan tingkah Ahok soal "QS al Maidah ayat 51 " memang menurut saya "kelewatan" dan respon Indonesia menurut saya " memang/wajib " begini.

Memang wajar ada aksi turun ke jalan, memang wajib MUI keluarkan fatwa, memang harus Ahok ditangkap.
Karena ini bukan masalah toleransi kawan, bukan masalah tidak menghargai perbedaan, namun masalah "Lakum Diinukum waliyaddiin ", masalah Akidah dan kepercayaan seseorang, dan disitu tak ada yang namanya "toleransi ".

Dan anehnya, para buya, ustad yang "ngogek " itu buat aksi marah ini semakin menjadi-jadi.  Melihat para "ngogek " itu bicara...disitulah saya merasa geram.
Jadi wajarlah aksi massa hari ini, bahkan kalau perlu berhar- hari, berbulan-bulan  sampai Ahok dapat ganjaran selayaknya.

Kondisi kedua yg buat saya nak koment adalah, baca koment ocu anton, adik pergerakan yang selama ini saya banggakan. Ketika Anton merasa konyol melihat warga lebih peduli pada kasus Ahok daripada soal Kemiskinan, lingkungan, soal korupsi, disitulah saya merasa heran sekaligus marah. Kebanyakan demo dek?

Semua kita prihatin dengan Kampar bahkan Indonesia, janganlah berfikir bahwa kerisauan akan carutmarut politik, silangburuk kemiskinan, hancur lebur pemikiran adalah kegalauanmu sorang. Ini adalah kegalauan kita semua. Kita semua peduli negeri ini bahkan mungkin lebih besar darimu. Who knows?

Masalahnya, masalah Ahok bukan sekedar soal kebutuhan bangsa, kebutuhan negeri. Tapi kebutuhan jiwa nurani. Penistaan agama mengoyak hati mereka yang berTuhan, dan melahirkan sebuah patriotisme keimanan. Nah kalau adinda merasa bahwa sikap seperti ini bisa diabaikan hanya karena persoalan negeri yang dah bertahun, itu naif menurut saya.

Hak utama manusia beragama, jika ingin duniamu baik, maka mulai dengan agamamu baik. Janganlah berharap mereka yang tidak peduli kondisi agama akan sangat peduli kondisi negeri dan dunia ini. Itu mustahil.

Eiits ..saya tidak bermaksud mengatakan kamu tidak beragama dan tidak peduli agama. Jangan sekali kali menafsirkan begitu. Karena saya tidak bermaksud begitu dan saya sendiri yang berhak menafsirkan.

Saya hanya heran, kalau anak muda sepertimu menganggap ini tidak penting, lalu apa?

Kita semua sama sama cinta negeri, namun kasus Ahok hari ini akan membuka mata bahwa untuk negeri yang lebih baik, perlu penghormatan yang lebih baik, terutama pada agamamu. Indonesia negeri kaya, bukan hanya kaya potensi, namun juga adat dan agama. Jadi membangun Indonesia dimulai dengan membangun rasa saling menghormati agama. Kampar itu hanyalah bagian kecil dari Indonesia.

Salam sayang untukmu Dek, dan mereka yang menganggap tak penting kasus Ahok  QS al Maidah ini. Salam sayang untukmu Indonesia.

-rdh-
Jumat 14 10 2016

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster