Jumat, 11 November 2016

Maawuo dan Kenangan Masa Kecil



Tradisi Ma'awuo Danau Bokuok bukan hanya sekedar  kegiatan tahunan masyarakat Tambang dan Terantang. Namun juga suatu tradisi adat dan budaya yang sudah berjalan ratusan tahun. Di dalamnya mengandung makna silaturahmi dan kasih sayang. Dan buat saya pribadi, Ma'awuo Danau Bokuok salah satu kenangan tentang Ayah dan masa kanak-kanak saya yang indah.

Dulu..waktu masih kecil, Ayah saya alm  H Nurhasan  punya kebun jeruk diseberang Danau Bokuok itu, kebun jeruk yang luas dan berbatas langsung dengan danau. Sayangnya sebelum beliau wafat kebun jeruknya mengalami penyakit dan akhirnya dijual. Sekarang kebun itu sudah berubah menjadi kebun sawit. Namun kenangan tentang Ayah takkan hilang.

Dulu setiap Ma'awuo kami selalu ikut. Dan kerabat kami membangun pondok. Saya dimanja oleh kerabat tersebut. Saya memanggilnya " Tuan Lie ". Hehehe nama aslinya Ilyas, namun dipanggil Lie. dan saya memanggilnya Tuan karena secara kekerabatan Lie adalah abang ipar saya (suami kakak sepupu), dan abang ipar dalam adat Kampar dipanggil Tuan.

Saya selalu diajak naik perahu oleh Tuan Lie, berputar-putar di Danau sebelum Maawuo dimulai.. Pernah suatu kali saya masih tinggal di tepian danau, saya menjerit memanggil Tuan lie unuk menjemput saya dan yang menjawab semua bapak bapak yang ada di perahu. Riuuuh sekali.
Begitu juga, ketika ada sampan yang terbalik. Semua yang didanau bersorak dan yang di daratan menyahuti. Sungguh paduan suara yang menawan.

Dulu setiap Ma'awuo, ikan sangat banyak. Jala-jala memutih oleh ikan motan, dan tangguk-tangguk penuh. Kilau sisik ikan seperti menantang semua orang untuk turun.

Ma'awuo bagi saya adalah saat bebas makan apa saja, ada lemang, durian, sambal aneka macam, aneka jajan. Dan tak ada orang dewasa yang sempat melarang saya untuk makan ini dan itu. Mereka sibuk saja dengan ikan-ikan dan saya diam-diam menikmati semua makanan yang ada.

Maawuo juga berarti banyak saudara pulang. Karena mereka yang dirantau datang dan pulang. Bahkan saatnya bisa ajak pacar ke pondok tanpa banyak ditanya. Semua keramahan muncul dan semua bahagia.

Maawuo juga berarti mata akan pedih. Karena begitu ikan ditangkap, para ibu di pondok akan langsung menyiangi, memasak untuk makan disitu. Dan sisanya di salai (diasapi). Maka kalau siang suasana di sepanjang tepian danau penuh asap dari sabut kelapa, memedihkan mata dan membuat baju berbau asap.

Dan yang pasti saya tidak suka ikan motan, karena banyak tulang. Setiap makan motan setiap itu pula saya mengalami tulang ikan nyangkut dileher dan Tuan lie akan sibuk. Ujung ujungnya saya diberi hak menikmati makanan lain sepuasnya.

Ah Maawuo, adalah tradisi mengembalikan kenangan indah masa kanak-kanak saya. Walaupun saya bukan putra Tambang, tapi sebagian masa kecil saya habis disana.

Dan Maawuo kali ini seakan-akan menggura kembali kerinduan saya pada Ayah, pada Tuan lie, pada kebun jeruk kami, pada sampan dan kasih sayang yang mengesankan masa kecil saya.
Dan saya yakin sebagian warga Tambang punya cerita indah soal maawuo masa kecil mereka. Bagaimana dengan kamu?


#mola_kekampar
#maawuodanaubokuok
#catatanwisatardh

0 komentar:

Design by Amanda @ Blogger Buster